Minggu, 20 Januari 2013

Radang Genitalia Interna

MELAKSANAKAN ASUHAN KEBIDANAN PADA RADANG GENETALIA INTERNA
CERVIKSITIS
Infeksi serviks kemungkinan lebih sering terjadi dari pada yang terlihat. Mengingat peristiwa laserasi umum dijumpai, dan serviks sendiri biasanya ditempati kuman-kuman yang patogen. Lagipula, mengingat laserasi serviks yang sering langsung meluas ke dalam jaringan di dasar ligamentum kardinale, infeksi tersebut mudah menyebabkan limfangitis, parametritis dan bakteremia.
Pengobatan :
Luka yang terinfeksi, seperti halnya luka bedah yang terinfeksi lainnya, harus diatasi dengan pemasangan drainase. Salah satu terapi kombinasi antibiotik berspektrum luas seperti dibicarakan diatas, harus diberikan pada keadaan ini. Rasa nyeri diringankan dengan penggunaan preparat analgesik yang efektif dan bila terjadi retensi urin, pemasangan indwelling catheter harus dilakukan.
ENDOMETRIOSIS
Endometriosis yang aktif dan berat merupakan komplikasi yang tidak sering ditemukan pada kehamilan. Namun demikian, wanita dengan endometriosis dapat hamil dan dalam perjalanan ke Endometriosis biasanya disebabkan oleh gangguan hormonal.
Gejalanya seperti : gangguan siklus menstruasi yang pendek kurang dari 21 hari, dismenorhea yang kuat, infertilitas, dan apabila di USG akan terlihat 2 buah uterus.
Penatalaksanaan : - Pengangkatan jaringan dengan tindakan operatif
-          Pemberian antibiotic berspectrum luas dosis tinggi untuk mencegah penyebaran ke jaringan lain
-          Pemberian anlgetik tanpa hormonal
Komplikasi yang langka dalam endomeriosis ovarium dalam kehamilan adalah ruptura kista endometrium dengan gambaran klinis yang memberikan kesan ke arah pielonefritis, apendisitis akut atau kehamilan tuba. Gambaran klinis lainnya adalah pembesaran endometrioma pelvic yang menyebabkan distosia persalianan. Namun demikian, sebagian besar wanita dnegan endometriosis yang tidak dikenali, jelas dapat menjalani kehamilan dan persalinannya tanpa komplikasi apapun.
PARAMETRITIS ( SELLULITIS PELVIKA )
Sellulitis pelvika ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai dengan rasa nyeri dfi kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan selulitis pelvika. Pada perkembangan proses peradangan lebih lanjut gejala-gejala sellulitis pelvika menjadi lebih jela. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri di sebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul, dapat meluas ke berbagai jurusan. Di tengah-tengan jaringan yang meradang itu bisa tumbuh abses. Dalam hal ini, suhu yang mula-mula tinggi secara menetap menjadi naik-turun disertai dengan menggigil. Penderita nampak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri. Dalam 2/3 kasus tidak terjadi pembentukan abses, dan suhu menurun dalam beberapa minggu. Tumor di sebelah uterus mengecil sedikit demi sedikit, dan akhirnya terdapat parametrium yang kaku.
Jika terjadi abses, nanah harus dikeluarkan karena selalu ada bahaya bahwa abses mencari jalan ke rongga perut yang menyebabkan peritonitis, ke rectum, atau ke kandung kencing.
ADNEXITIS
Adnexitis ini biasanya menyerang pada tuba dan jaringan sekitarnya. Pada infeksi masa puerperalis, kelainan yang mengenai tuba falopi seringkali hanya perisalpinitis tanpa diikuti oklusi tuba, sterilisasi di kemudian hari dan kemandulan. Salpingitis primer karena penyakit gonore selama masa puerperalis jarang ditemukan. Abses ovarium dapat terjadi sebagai komplikasi infeksi masa puerpuralis yang munkin akibat invasi bakteri melalui ruptura selubung ovarium. Abses biasanya unilateral dan pasien biasanya datang 1 sampai 2 minggu setelah melahirkan. Pada banyak kasus, ruptura bases akan menyebabkan peritonitis tampak jelas, tindakan yang dilakukan pada mulanya berupa pemberian preparat entibiotik intravena saja, tetapi drainase biasanya juga diperlukan dan juga bias mendorong dilakukannya eksplorasi bedah.
PERITONITIS
Adanya gangguan pada system pencernaan. Biasanya nyeri pada symfisis kiri dan tekan. Penyulit ini jarang dijumpai apabila terapi segera diberikan, akan tetapi nisa ditemukan pada pasien infeksi pasca secsio sesarea apabila terjadi nekrosis dan terlepasnya insisi, dan juga bias terjadi karena meluasnya endometritis. Tetapi juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforotis dan sellulitis pelvika. Selanjutnya, ada kemungkinan bahwa abses pada sellusitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan menyebabkan peritonitis. Peritonitis juga kadang dijumpai pada wanita dengan riwayat SC dan menjalani persalinan pervaginam.
Secara klinis, peritonitis nifas mirip dengan peritonitis bedah, kecuali bahwa rigidaitas abdomen biasanya kurang meninjol karena pada kehamilan terjadi peregangan abdomen. Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis. Gejalanya tidak seberat pada peritonitis umum, penderita demam, nyeri perut bagian bawah, yaitu karena distensi usus yang hebat terjadi karena ileus paralitik. Tetapi keadaan umum tetap baik. Pada pelvioperitonitis bias terjadi pertumbuhan bases. Nanah yang biasanya terkumpul dalam kavum Douglas harus di keluarkan dnegan kolpotomi posterior untuk mencegah keluarnya melalui rectum atau kandung kencing.
Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen dan merupakan penyakit berat. Suhu mneingkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri ada defense musculire. Muka menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingain; terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica.
Kausa peritonitis generalisata perlu diidentifikasi. Apabila infeksi dimulai di uterus dan kemudian ke peritoneum, terapi biasanya bersifat medis. Sebaliknya, peritonitis akibat lesi usus atau nekrosis insisi uterus sebaiknya diterapi secara bedah. Terapi antimikroba dilanjutkan.
Penanganan pada peritonitis :
a. Pasang selang nasogastrik
b. Infus cairan Ringr Laktat
c. Berikan antibiotik kombinasi, sampai 48 jam bebas panas
• Ampisilin 2 g I.V. tiap 24 jam
• Ditambah gentamisin 5 mg/kg .I.V. tiap 24 jam
• Ditambah metronidasol 500 mg I.V. tiap 8 jam
d. Jika perlu lakukan laparatoni untuk drainase
                              
PELVIKSISTIS
Meskipun segera dilakukan pengobatan antibiotika yang tepat untuk mengatasi metritis, kadang-kadang suatu flegmon parametrium akan mengalami supurasi sehingga terbentuk massa benjolan pada ligamentum latum yang berfluktuasi dan bias menonjol diatas ligamentum inguinale pouparti. Dalam keadaan ini, wanita tersebut mungkin tidak menunjukan gejala yang semakin memburuk tetapi panas tetap bertahan. Begitu trdapat ruptura abses ke dalam kavum peritonii, peritonitis yang bias membawa kematian dapat terjadi. Kemungkinan lebih besar lag, trjadi robekan ke arah anterior sehingga tidak terjangkau dengan tindakan drainase lewat jarum yang diarahkan oleh tomografi komputer. Kadang-kadang robekan terjadi ke arah posterior lewat ruang retroperitonium ke dalam septum rektovaginalis di mana drainase operatif mudah di laksanakan.
Gejalanya :           -    Nyeri daerah pinggang menjalar ke symfisis
-          Demam tinggi yang berhari- hari
-          Biasanya disebabkan oleh infeksi pada kuman
Tindakan : Pemberian anlgetik, antibiotic berspectrum luas.
MYOMETRITIS
1.      Pengertian
Myometritis / Metritis adalah radang miometrium. Metritis adalah infeksi uterus setlah persalinan yang merupakan salah satu penyebab terbesar kematian ibu.Penyakit ini tidak berdiri sendiri tetapi merupakan lanjutan dari endometritis, sehingga gejala dan terapinya seperti endometritis.
2.      Klasifikasi Myometritis
a.       Metritis Akut
Metritis akut biasanya terdapat pada abortus septik atau infeksi postpartum. Penyakit ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas yaitu merupakan lanjutan dari endometriosis. Kerokan pada wanita dengan endometrium yang meradang dapat menimbulkan metritis akut.
Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltrasi sel-sel radang. Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat tromboflebitis dan kadang – kadang dapat terjadi abses.
b.      Metritis Kronik
Metritis Kronik adalah diagnosa yang dahulu banyak dibuat atas dasar menometroragia dengan uterus yang lebih besar dari biasanya, sakit pinggang dan leukore. Akan tetapi pembesaran uterus pada multipara umumnya disebabkan oleh penambahan jaringan ikat akibat kehamilan, sedang gejala – gejala yang lain mungkin mempunyai sebab lain. Bila pengobatan terlambat ataukurang adekuat dapat menjadi abses, peritonitis, Syok septik, infeksi pelvik yang menahun, penyumbatan tuba dan infertilitas.
3.      Tanda dan gejala
Gejala metritis sama dengan gejala yang muncul pada Endometritis :
a.       Demam
b.      Nyeri perut bawah, keluar lochea berbau / purulent
c.       Perdarahan vaginal
d.      Sakit pinggang
e.       Nyeri tekan uterus
4.      Diagnosa
Pada metritis diagnosa hanya dapat dibuat secara Patologi Anatomis
5.      Komplikasi
Dapat terjadi penyebaran ke jaringan sekitar seperti :
a.       Parametritis ( infeksi sekitar rahim )
b.      Salpingitis ( infeksi saluran otot )
c.       Ooforitis ( infeksi indung telur )
d.      Pembentukan nanah sehingga terjadi abses pada tuba atau indung telur
(Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan,  407)
6.      Penanganan
Terapi miometritis :
a.       Antibiotika spektrum luas
-          Ampisilin 2 g iv / 6 jam
-          Gentamisin 5 mg kg / BB
-          Metronidasol 500 mg iv / 8 jam
b.      Profilaksi Antitetanus
c.       Evakuasi sisa hasil konsepsi
-          Antibiotik kombinasi
-          Transfusi jika diperlukan
KELAINAN PADA OVARIUM
SALPINGITIS
Salpingitis menyerang pada tuba dan biasanya nyeri pada saat ditekan,salpingitis juga menjalar ke ovarium hingga juga terjadi oophoritis. Salpingitis dan oophoritis diberi nama adnexitis.
Etiologi :
Paling sering disebabkan oleh gonococcus, disamping itu oleh staphylococ, streptococ dan bacteri Tuberculosis.
Infeksi dapat terjadi sebagai berikut :
Naik dari cavum uteri
Menjalar dari alat yang berdekatan seperti dari appendiks yang meradang
Haematogen terutama salpingitis tuberculosa
Salpingitis biasanya bilateral.
Gejala-gejala :
Demam tinggi dengan menggigil, pasien sakit keras.
Nyeri kiri dan kanan di perut bagian bawah terutama kalau ditekan
Mual dan muntah; jadi ada gejala abdomen akut karena terjadi perangsangan peritoneum.
Kadang-kadang ada tenesmi adanum karena proses dekat pada rectum atau sigmoid.
Toucher : nyeri kalau portio digoyangkan, nyeri kiri dan kanan dari uterus, kadang-kadang ada penebalan dari tuba, tuba yang sehat taj dapat diraba.
Harus diketahui bahwa tekanan pada ovarium selalu menimbulkan nyeri walaupun tidak meradang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar