Rabu, 16 Januari 2013

Infeksi Payudara

BAB II
TINJAUAN TEORI
Masa nifas adalah masa setelah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat-alat kandungan seperti sebelum hamil yang berlangsung selama 6 minggu. Komplikasi masa nifas adalah keadaan abnormal pada masa nifas yang disebabkan oleh masuknya kuman-kuman ke dalam alat genitalia pada waktu persalinan dan nifas.
Masa nifas merupakan masa yang rawan bagi ibu, sekitar 60% kematian ibu terjadi setelah melahirkan dan hamper 50% dari kematian pada masa nifas terjadi pada 24 jam pertama setelah melahirkan, diantaranya disebabkan oleh adanya komplikasi masa nifas. Selama ini perdarahan pasca persalinan merupakan penyebab kematian ibu, namun dengan meningkatnya persediaan darah dan system rujukan, maka infeksi menjadi lebih menonjol sebagai penyebab kematian dan morbiditas ibu.
1.      Mastitis
Mastitis adalah infeksi pada payudara, meskipun dapat terjadi pada semua wanita, mastitis semata-mata merupakan komplikasi pada ibu menyusui. Mastitis harus dibedakan dari peningkatan suhu  transien dan nyeri payudara akibat pembesaran awal karena air susu masuk ke dalam payudara. Mastitis terjadi akibat invasi jaringan payudara (glandular, jaringan ikat, areoalar, lemak) oleh organisme yang infeksius atau adanya cedera payudara.
Infeksi Payudara (Mastitis) adalah suatu infeksi pada jaringan payudara.
Pada infeksi yang berat atau tidak diobati, bisa terbentuk abses payudara
 (penimbunan nanah di dalam payudara).
Penanganan terbaik mastitis adalah dengan pencegahan. Pencegahan dilakukan dengan mencuci tangan menggunakan sabun antibakteri secaara cermat, pencegahan pembesaran dengan menyusui sejak awal dan sering, posisi bayi yang tepat pada payudara, penyangga payudara yang baik tanpa kontruksi, membersihkan hanya dengan air dan tanpa agen pengering.
Etiologi Mastitis
v  Organisme penyebab utama adalah Streptococcus aureus
v  payudara bengkak yang tidak disusukan secara adekuat, akhirnya terjadi mastitis
v  Bra yang terlalu ketat mengakibatkan segmental engorgement, jika tidak disusukan bisa terjadi mastitis
v  Putting susu yang lecet atau terluka akan memudahkan masuknya kuman menjalar ke duktus-duktus dan sinus sehingga menyebabkan terjadinya mastitis
v  Ibu dengan asupan gizi yang kurang, isirahat yang kurang dan anemia, akan mempermudah terjadinya infeksi.
v  Personal hygiene yang kurang pada putting payudara
Mastitis hampir slalu terbatas pada satu payudara, tanda dan gejala aktual mastitis meliputi:
v  Peningkatan suhu yang cepat (dari 39,5oc -40oc)
v  Peningkatan kecepatan nadi
v  Mengigil.
v  Malaise umum, sakit kepala.
v  Nyeri habat, bengkak, inflamasi, area payudara keras.
Mastitis yang tidak ditangani memiliki resiko terbentuknya abses. Tanda dan gejala abses:
v  Discharge puting susu purulenta.
v  Demam remiten (suhu naik turun) disertai mengigil.
v  Pembengkakan payudara dan sangat nyeri, massa besar dan keras dengan area kulit berwarna berfluktuasi kemerahan dan kebiruan, mengidentifikasikan lokasi abses berisi pus.
Jika diduga mastitis, intervensi dini dapat mencegah perburukan. Intervensi meliputi beberapa tindakan hygien:
v  BH yang cukup menyangga akan tetapi tidak berat.
v  Perhatian yang cermat saat mencuci tangan dengan perawatan payudara.
v  Kompres hangat pada area yang terkena.
v  Masase arae saat menyusui inuk memfasilitasi aliran air susu.
v  Peningkatan asupan cairan.
v  Istirahat.
v  Membantu ibu menentukan prioritas untuk mengurangi stres dan keletihan.
v  Suportif.
Penangan pada mastitis:
v  Segera setelah mastitis ditemukan, pemberian susu kepada bayi dari payudara uang sakit dihentikan dan diberi antibiotik.
v  Dengan tindakan-tindakan ini, terjadinya abses dapat dicegah karena biasanya infeksi disebabkan oleh staphilococcus aureus. Penisilin dalam dosis tinggi dapat diberikan.
v  Sebelum pemberian penisilin, dapat diadakan pembiakan asi supaya penyebab mastitis dapat diketahui.
v  Bila ada abses, nanah perlu dikeluarkan dengan sayatan sedikit, mungkin pada abses. Untuk mencegah kerusakan pada ductus laktiferus, sayatan dibuat sejajar.
Penanganan pada abses :
*      Diperlukan anestesi umum.
*      Insisi radial dari tengah dekat pinggir aerola, ke pinggir supaya tidak mendorong saluran ASI.
*      Pecahkan kantung PUS dengan klem jaringan ( pean ) atau  jari tangan.
*      Pasang tampon dan drain, diangkat setelah 24 jam.
*      Berikan Kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari.
*      Sangga payudara.
*      Kompres dingin.
*      Berikan parasetamol 500 mg setiap 4 jam sekali bila diperlukan.
*      Ibu dianjurkan tetap memberikan ASI walau ada pus.
*      Lakukan follow up setelah peberian pemgobatan selama 3 hari.
2.      Bendungan asi
Setelah bayi lahir dan plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun dalam 2-3 hari. Dengan demikian, faktor dari hyphotalamus yang menghalangi keluarnya prolaktin waktu hamil sangat dipengaruhi oleh esrogen tidak dikeluarkan lagi dan terjadi sekresi prolaktin pada hypofisis. Pada permulaan nifas, apabila bayi belum menyusui dengan baik, atau kemudian apabila kelenjar-kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna, terjadi penbendungan air susu. Payudara panas, keras, dan nyeri pada perabaan, serta suhu badan naik.
Sesudah bayi lahir dan plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun dalam 2-3 hari. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang menghalangi keluarnya pituitary lactogenic hormon (prolaktin) waktu hamil, dan sangat dipengaruhi oleh estrogen tidak dikeluarkan lagi, dan terjadi sekresi prolaktin oleh hipofisis. Hormon ini menyebabkan alveolus-alveolus kelenjar mammae terisi dengan air susu, tetapi untuk mengeluarkannya dibutuhkan reflex yang menyebabkan kontraksi sel-sel mio-epitelial yang mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut. Refleksi ini timbul jika bayi menyusu. Pada permulaan nifas apabila bayi belum menyusu dengan baik, atau kemudian apabila kelenjar-kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna, terjadi pembendungan air susu (Wiknjosastro, 2005).
Puting susu mendatar dan ini dapat menyulikan bayi untuk menyusu, kadang-kadang pengeluaran susu juga terhalang ductus lactoferi yang menyempit karena pembesaran vena dam pembuluh limfe.
Penangan pembendungan dilakukan dengan jalan menyokong payudara dengan BH dan memberikan analgetik,terkadang juga perlu diberi stilboestrol 3 kali sehari 1mg selama 3 hari untuk mengurangi pembendungan dan memungkinkan air susu dikeluarkan serta lakukan perawatan payudara dengan bendungan asi. Apabila bendungan asi tidak dikeluarkan maka akan mengakibatkan terhentinya produksi asi, oleh sebab itu maka dapat dilakukan pijat oksi yang funginya untuk meningkatkan produksi asi ibu, sehingga apabila produksi asi mulai menurun, maka hal ini dapat dilakukaa dengan cara :
·         Sebelum mulai dipijat, ibu sebaiknya dalam keadaan telanjang dada.
·         Menyuruh keluaga atau suami ibu untuk membantu melakukan pemijitan.
·         Posisi ibu dapat telungkup dimeja/ bersandar dikursi.
·         Setelah itu cari tulang belakang leher yang lebih menonjol, atau namanya processus spinosusu/ certivical vertebrae 7.
·         Dari titik penonjolan tulang tadi, turun sedikit ke bawah kurang lebih 1-2 jari dan dari titik tersebut, geser lagi ke kanan dan kiri masing-masing 1-2 jari.
·         Mulailah lakukan pijatan dengan gerakan memutar perlahan-lahan ke arah bawah sampai ke batas garis bra. Kalo mau terus sampe pinggang juga ga masalah ko.. Tapi kata penelitian, titik buat merangsang oksitosinnya cuma sampe di garis itu.
Faktor predisposisi terjadinya bendungan ASI antara lain :
v Faktor frekuensi menyusui
Bahwa insiden bendungan payudara dapat dikurangi hingga setengahnya bila bayi disusui tanpa batas. Sejumlah penelitian lainnya mengamati bahwa bila waktu untuk menyusui dijadwal lebih sering terjadi bendungan yang sering diikuti dengan mastitis dan kegagalan laktasi (WHO, 2003). Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan ASI selanjutnya.
v Faktor isapan bayi yang tidak aktif
Pentingnya isapan bayi yang baik pada payudara untuk mengeluarkan ASI yang efektif. Isapan yang buruk sebagai penyebab pengeluaran ASI yang tidak efisien saat ini dianggap sebagai faktor predisposisi utama mastitis. Selain itu, nyeri putting susu akan menyebabkan ibu menghindar untuk menyusui pada payudara yang sakit dan karena itulah terbentuknya statis ASI dan bendungan ASI (WHO).
v  Faktor posisi menyusui yang tidak benar
Teknik yang salah dalam menyusui dapat mengakibatkan putting susu menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat menyusu. Akibatnya ibu tidak mau menyusui bayinya dan terjadi bendungan ASI. Selain itu, banyak ibu merasa lebih mudah untuk menyusui bayinya pada satu sisi payudara dibandingkan dengan payudara yang lain (WHO).
v  Kelainan pada puting susu
v  Produksi asi yang berlebihan.
Upaya pencegahan untuk bendungan ASI adalah :
*      Menyusui dini, susui bayi sesegera mungkin (setelah 30 menit) setelah dilahirkan
*      Susui bayi tanpa jadwal atau ondemand
*      Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi melebihi kebutuhan bayi
*      Perawatan payudara pasca persalinan
Upaya pengobatan untuk bendungan ASI adalah :
v  Kompres hangat payudara agar menjadi lebih lembek
v  Keluarkan sedikit ASI sehingga puting lebih mudah ditangkap dan dihisap oleh bayi.
v  Sesudah bayi kenyang keluarkan sisa ASI
v  Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara, berikan kompres dingin
v  Untuk mengurangi statis di vena dan pembuluh getah bening lakukan pengurutan (masase) payudara yang dimulai dari putin kearah korpus. (Sastrawinata, 2004)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar