Sabtu, 19 Januari 2013

Atresia Eksofagus

BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFENISI

Atresia esofagus adalah malpormasi yang disebabkan oleh kegagalan esofagus untuk mengadakan pasase yang kontinu : esophagus mungkin saja atau mungkin juga tidak membentuk sambungan dengan trakea  ( fistula trakeoesopagus) atau atresia esophagus adalah kegagalan esophagus untuk membentuk  saluran kotinu dari faring ke lambung selama perkembangan embrionik adapun pengertian lain yaitubila sebua segmen esoofagus mengalami gangguan dalam pertumbuhan nya( congenital)  dan tetap sebaga bagian tipis tanpa lubang saluran.
Fistula trakeo esophagus adalah hubungan abnormal antara trakeo dan esofagus . Dua kondisi ini biasanya terjadi bersamaan, dan mungkin disertai oleh anomaly lain seperti penyakit jantung congenital. Untuk alas an yang tidak diketahui  esophagus dan trakea gagal untuk berdeferensiasi dengan tepat selama gestasi pada minggu keempat dan kelima.

B. TIPE ATRESIA ESOFAGUS
Tipe A
(5% sampai 8%) kantong buntu disetiap ujung asofagus, terpisah jauh dan     tanpahubungan ke trakea.
Tipe B
(jarang) kantong buntu disetiap ujung esophagus dengan fistula dari trakea ke segmen esophagus bagian atas.
Tipe C
(80% sampai 95%) segmen esophagus proksimal berakhir pada kantong buntu, dan segmen distal dihbungkan ke trakea atau bronkus primer dan fistula pendek pada atau dekat bifurkasi.
TIPE D (jarang)
Kedua segmen esophagus atas dan bawah dihubungkan  ke trakea.
TIPE E (jarang disbanding A atau C)
Sebaliknya trakea dan esophagus nomal dihubungkan dengan fistula umum.

C. ETIOLOGI

Atresia esophagus disebabkan oleh tumor esophagus dan bayi lahir prematur, tapi tidak semua bayi yang lahir premature mengalami penyakit ini. Dan ada alasan yang tidak diketahui mengapa esefagus dan trakea gagal untuk berdiferensiasi dengan tepat selama gestasi pada minggu ke empat dan ke  lima.

D. MANIFESTASI KLINIK

Gambaran Atresia Di Tandai Dengan gangguan Proses Menelan waktu lahir dan terjadi gangguan pernapasan bila terjadi gangguan pernapasan bila bahan makanan teraspiasi kesana. Perlu penanggulangan bedah. Dan liur selalu meleleh dari mulut bayi dan berbui. Pada fistula trakea esophagus , cairan lambung juga dapat masuk kedalam paru : oleh karena itu bayi sering sianosis. Pemberian minum dapat menyebabkan batuk atau seperti tercekik dan bayi sianosis.
Kelainan bawaan ini biasanya terdapat pada bayi yang lahir dengan kehamilan hidramnion dan biasanya bayi dalam keadaan kurang bulan. Pada bayi kurang bulan ini, pemberian minum sering menyebabkan bayi tersebut menjadi biru dan apnea tampa batuk –batuk. Jika terdapat fistula trekoesofagus perut bayi tampak membuncit karena terisi udara. Bila dimasukkan kateter melalui mulut sepanjang 7.5 – 10 cm dari bibir, kateter akan terbentur pada ujung esophagus yang buntu: dan jika kateter didorong terus akan melingkar – lingkar di dalam esophagus yang buntu tersebut. Diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan memasukkan pipa radio-opak atau larutan kontras liopodol ke dalam esophagus dan dibuat foto toraks biasa.

E. EVALUASI DIAGNOSTIK

Ketidak mampuan untuk melewati kekakuan, radiopage ukuran 8 sampai 10 kateter French kedalam lambung melalui hidung atau mulut
Sinar x palatum datar abdomen dan dada  dapat menunjukkan adanya  gas dalam lambung dan ujung kateter dalam kantung buntu.
Pemindaian ultra suara dapat menunjukkan TEF in utero pada beberapa bayi.
EKG dan ekokardiogrm dapat dilakukan karena korelasi tiggi  pada anomaly jantung.

F. KOMPLIKASI PASCA OPERASI

1. Kebocoran pada sisi anastomis
2. fistula kambuhan
3. Sirkulasi esophagus
4. Repluksgastroesopagus dan esopagitis
5. Trakeomalaisia
6. Masalah makan dengan anak yang lebih besar

G. DIAGNOSIS
Biasanya disertai denga hydra amnion (60 %) dan hal ini pula yang menyebabkan kenaikan frekuensi bayi ang lahir premature. Sebaliknya bila dari ananese ditetapkan keterangan bahwa kehamilan ibu disertai hidraamnion, hendakla dilakukan kateterisasiesofagus dengan kateter pada jarak kurang dari 10 cm , maka harus didiga adanya  atresia esophagus.
Bila pada bayi baru lahir timbul sesak napas yang disertai air liur meleleh keluar, harus dicurigai adanya atresia esfagus.
Segera setlah diberi minum, bay akan berbangkis, batuk dan sianosis karena aspiasi cairan kedam jalan nafas.
Dianosis pasti dapat dibuat denga foto toraks yang akan menunjukkan gambaran kateter terhenti pada tempat  atresia. Pemberian kontras kedalam esophagus  dapat memberikan gambaran yang lebih pasti, tapi cara ini tidak dianjurkan.
Perlu dibedakan pada pemeriksaan fisis apakah lambung terisi udara atau kosong untuk menunjang atau menyingkirkan terdapatnya fistula trakeoesofagus.  Hal ini dapat terlihat pada foto abdomen.

H. PENATALAKSANAAN
Medik
Pengobatan dilakukan dengan operasi
Keperwatan
Sebelum dilakukan operasi, bayi diletakkan setengah duduk untuk mencegah terjadinya regurgitasi cairan lambung kedalam paru. Cairan lambung harus sering diisap untuk mencegah as[irasi. Untuk mencegah terjadinya hipotermia, bayi hendakna dirawat dalam inkobator agar mendapatkan lingkungan yang cukup hangat. Posisinya sering di ubah-ubah, pengisapan lender harus sering di lakukan bayi hendaknya dirangsang untuk menangi agar paru berkembang.
Tindakan
Pada anak segera dipasan kateter ke dalam esofagus dan bila mungkin dilakukan pengisapan terus menerus.
Posisi anak tidur tergantung pada ada tidaknya fistula, karena aspirasi cairan lambung lebih berbahaya dari saliva. Anak dengan fistula trakeoesofaus ditidurkan setengah duduk anak tanpa fistula diletakkan dengan kepala lebih rendah (posisi trendeleburg)
Anak dipersiapkan untuk operasi segera. Apakah dapat dilakukan penutupan fistula dengan segera atau hanya dilakukan gastrotomi tergantung dari jenis kelainan dan keadaan umum anak pada saat itu.

I. PROSES KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Asuhan keperawatan yang diberikan pada bayi baru lahir adalah berdasarkan tahapan-tahapan pada proses keperawatan.  tahap pengkajian merupakan tahap awal, disini perawat mengumpulkan semua imformasi  baik dari klien dengan cara observasi dan dari keluarganya.
Lakukan penkajian bayi baru lahir.observasi manipestasi atresia esophagus dan fistula. Traekeoesofagus, saliva berlebihan, tersedat, sianosis, apnea
a) Sekresi berlebihan , mengalirkan liur konstan,sekresi hidung banyak.
b) Sianosis intermitten yang tidak diketahui penyebabnya.
c) Laringaspasme yang disebabkan oleh aspirasi saliva yang terakumulasi dalam kantong buntu.
d) Distensi abdominal.
e) Respon kekerasan setelah menelan makanan yang pertama atau kedua : bayi batuk dan tersedat saat cairan kembali melalui hidung dan mulut trejadi sianosis.
f) Bayi sering premetur dan kehamilan munkun terkomplikasi oleh hydra amniaon (cairan amniotic berlebihan dalam kantong ).




B. DIANOSA KEPERAWATAN
Masalah keperawatan yang munkin timbul pada klien dengan atersia esophagus
a) Bersihan jalan napas tidak epektif.
b) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
c) kesulitan menelan.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Manajemen kolaboratif
Intervensi terapeutik
1. Pengobatan segera terdiri dari penyokongan bayi pada sudut 30 derajat untuk mencegah refluks isi lambung : pengisapan kantong esophagus atas dengan selang replogleatau drai penampung; gastrostomi untuk mendekompresi lambung dan mencegah aspirasi ( selanjutnya digunakan untuk pemberian makan ) puasa, cairan diberikan IV.
2. pengobatan secaa tepat terhadap proses patoogis pennerta,seperti pneumonitis atau gagal jantung kongestif.
3. terapi pendukung meliputi pemenuhan kebutuhan nutrisi, cairan IV,antibiotic, dukungan pernapasa, dan mempertahankan lingkungan netral secara termal.
Intervensi pembedahan
1. Perbaikan primer segera: pembagian fistula diikuti oleh anatomisis esophagus segmen proksimal dan disal bila berat  bayi lebih dari 2000g dan tanpa pneumonia.
2. Perlambatan jangka pendek (perbaiakan primer lanjut): untuk menstabilkan bayi dan mencegah penyimpangan bila bayi tidak dapat mentoleransi pembedahan dengan segera.
3. Pentahapan:pada awalnya, pembagian fistula dan  gastrotomi dilakukan dengan anastomisis esophagus sekunder lanjut. Pendkatan dapat digunakan pad bayi yang masih sanhat kecil, prematr atau neonatus, yang sakit, atu bila anomal congenital berat.
4. Esofagomiotomi servikal ( lubang buatan pada leher yang memungkinkan drainase esophagus bagian atas ) dapat dialakukan bila ujung esofagus terpisah terlau jauh: pengggantian esophagus dengansegmen usus pada usia 18 sampai 24 bulan.
Nutrisi kurang dari kebutuhan
Intervensi
1. pada praoperasi waspada terhadap indikasi gawat napas: retrasi, sianosissirkomoral, gelisa, pernapasan cuping hidung, peningkatan frekuensi pernapasan dan jantung.
2. Pantau tanda –tanda vital dengan sering terhadap perubahan pedatekanan darhdan nadi, yang dapat mengidikasikan dehidrasi atau kelebihan beban volume cairan.
3. Catat masukan dan haluaran, termasuk drainase lambung (bila selang gastrotomiuntuk dekomensasi terpasang)
4. Pantau terhadap distensi abdomen.
Bersihan jalan napas tidak efektif
Intervensi
1. Posisi bayi dengan kepala ditinggikan 20 sampai 30 derajat untuk mencegah atau mengurangi refluks asam lambung kedalam percabangan trakeobronkial. Balik bayi dengan sering untuk mencegah atelektasis dan pneumonia.
2. Lakukan pengisapan nasofaring intermitten atau pertahankan selang lumen ganda atau selang penampung dengan pengisapan konstan untuk mengeluarkan sekresi dari kantung buntu esophagus
Jamin bahwa selang indwelling tetap paten, diganti sesuai kebutuhan, sedikitnya sekaliu setiap 12 sampai 24 jam lubang hidung yang digunakan harus bergantian. Cegah nekrosis lubang hidung dari tekanan oleh kateter
Isap mulut untuk mempertahankan bebas sekresi dan mencegah aspirasi.
3. Bila gastrotomi ditempatkan sebelum pembedahan definitive, pertahankan       selang yang mengalir sesuai gravitasi, dan jangan mengirigasi sebelum pembedahan.
4. Tempatkan bayi dalam isolette atau dibawah penghangat radian dengan humiditas tinggi.
Bantu dalam mengencerkan sekresi dan mucus yang kental.
Pertahkan suhu bayi dalam zona termoneutral dan jamin isolasi lingkungan untuk mengcegah infeksi.





Kesulitan menelan
1. Perhatikan kepatenan jalan nafas, isap dengan sering sedikitnya setiap 1 sampai 2 jam, mungkin diperlukan setiap 5 sampai 10 menit.
Minta ahli bedah untuk menandai keteter pengisap untuk menunjukan seberapa jauh keteter dapat dimasukkan dengan aman tanpa mengganggu anastomosis.
Observasi terhadap tanda   sumbatan jalan nafas.
2. Berikan fisioterapi dada sesuai ketentuan
Ubah posisi bayi dengan membalik, rangsang supaya menangis untuk meningkatkan pengembangan penuh paru.
Tinggikan kepala dan bahu 20 sampai 30 derajat
Gunakan vibrator mekanis 2 sampai 3 hari pada pascaoperasi (untuk meminimalkan trauma pada anastomosis), diikuti dengan lebih banyak terapi fisik dada keras setelah hari ketiga.
3. Lanjutkan penggunaan Isolette atau penghangat radian dengan kelembaban.
4. Lanjutkan dengan penyediaan alat kedaruratan , termasuk mesin pengisap, keteter, oksigen, laringoskop, selang endotrakeal dalam berbagai ukuran.

D. EVALUASI KEPERWATAN

Pada tahap ini perawat menkaji kembali hal-hal perhan  dilakukan, berdasarkan pada criteria hasil yang telah ditetapkan.  Apabila masih terdapat masalah – masalah klien yang belum teratasi, perawat hendaknya menkaji kembali hal –hal yang berkenaan dengan masalah tersebut dan kembali melakukan intrvensi keperawatan. Sebaliknya bila masalah klin telah teratasi maka prlu dilakukan pengawasan dan  pengontrolan yang teratur untuk mencegah timbulnya serangan atau gejala – gejala yang memicu terjadinya serangan.

DAFTAR FUSTAKA


1. Ngastiyah. Perawatan anak sakit. Buku kedokteran. EGC,1997. Jakarta
2. Sylvia A price, Lorraine m Wilson. Patofisiologi. Buku kedokteran,  EGC, 1997, Jakarta
3. Ronna L Wong. Keperawatan pediatric.Buku kedokteran, EGC.2003.Jakarta.
4. Robbins dan kumar.Patologi .Fakultas kedoteran. Universitas  Aerlangga, Edisi 4 ,EGC, 1995, Jakarta
5. Ilmu kesehatan anak. Fakultas Kedokteran. EGC.1995. Jakata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar