Jumat, 15 Februari 2013

Retensio Plasenta

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.  Definisi
    Retensio plasenta adalah apabila plasenta belum lahir setangah jam setelah janin lahir(Winkjosastro, 2010 ).
    Retensio plasenta adalah belum lepasnya plasenta dengan melebihi waktu setengah jam. Keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera. Bila retensio plasenta tidak diikuti perdarahan maka perlu diperhatikan ada kemungkinan terjadi plasenta adhesive, plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta. (Manuaba (2006:176).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa retensio plasenta ialah plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir, keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera.
Jenis-jenis retensio plasenta:       
a) Plasenta Adhesive : Implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis
b) Plasenta Akreta : Implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium.
c) Plasenta Inkreta : Implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
d) Plasenta Prekreta : Implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan serosa dinding uterus hingga ke peritonium
e) Plasenta Inkarserata : Tertahannya plasenta di dalam kavum uteri disebabkan oleh konstriksi ostium uteri. (Sarwono, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002:178).
Perdarahan hanya terjadi pada plasenta yang sebagian atau seluruhnya telah lepas dari dinding rahim. Banyak atau sedikitnya perdarahan tergantung luasnya bagian plasenta yang telah lepas dan dapat timbul perdarahan. Melalui periksa dalam atau tarikan pada tali pusat dapat diketahui apakah plasenta sudah lepas atau belum dan bila lebih dari 30 menit maka kita dapat melakukan plasenta manual.
Retensio plasenta (Placental Retention) merupakan plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta (rest placenta) merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini (Early Postpartum Hemorrhage) atau perdarahan post partum lambat (Late Postpartum Hemorrhage) yang biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan.
B.  Prognosis
Tergantung penanganan perdarahan.
C.  Etiologi atau Penyebab
Menurut Wiknjosastro (2007) sebab retensio plasenta dibagi menjadi 2 golongan ialah sebab fungsional dan sebab patologi anatomik.
1.    Sebab fungsional 
 a)    His yang kurang kuat (sebab utama)
 b)    Tempat melekatnya yang kurang menguntungkan (contoh : di sudut tuba)
 c)    Ukuran plasenta terlalu kecil
 d)    Lingkaran kontriksi pada bagian bawah perut 
2.  Sebab patologi anatomik (perlekatan plasenta yang abnormal)
Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh lebih dalam. Menurut tingkat perlekatannya :
a. Plasenta adhesiva : plasenta yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam.
b. Plasenta inkreta : vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua endometrium sampai ke miometrium.
c. Plasenta akreta : vili khorialis tumbuh menembus miometrium sampai ke serosa.
d. Plasenta perkreta : vili khorialis tumbuh menembus serosa atau peritoneum dinding rahim.
D. Tanda Dan Gejala
Gejala
Akreta parsial
Inkarserata
Akreta
Konsistensi uterus
Kenyal
Keras
Cukup
Tinggi fundus
Sepusat
2 jari bawah pusat
Sepusat
Bentuk uterus
Discoid
Agak globuler
Discoid
Perdarahan
Sedang – banyak
Sedang
Sedikit / tidak ada
Tali pusat
Terjulur sebagian
Terjulur
Tidak terjulur
Ostium uteri
Terbuka
Konstriksi
Terbuka
Pelepasan plasenta
Lepas sebagian
Sudah lepas
Melekat seluruhnya
Syok
Sering
Jarang
Jarang sekali, kecuali akibat inversion oleh tarikan kuat pada tali pusat
E. Akibat
     Dapat menimbulkan bahaya perdarahan, infeksi karena sebagai benda mati, dapat terjadi
placenta inkarserata, dapat terjadi polip placenta dan terjadi degenarasi ganas korio karsinoma.
F. Penanganan dan Terapi
Untuk memperkecil komplikasi dapat dilakukan tindakan profilaksis dengan :
a. Memberikan uterotonika IV atau IM
b. Memasang tamponade uterovaginal
c. Memberikan antibiotic
d. Memasang infuse dan persiapan transfuse darah
        Placenta manual merupakan tindakan operasi kebidanan untuk melahirkan retensio placenta yang dilakukan secra manual ( menggunakan tangan ) dari tempat implantasinya dan kemudian melahirkannya keluar dari kavum uteri.
Penanganan dengan cara Manual Plasenta: 
a)      Pemasangan cairan infuse → Tujuannya untuk menambah cairan / tenaga ibu
b)       Menjelaskan kepada ibu tentang prosedur dan tujuan tindakan
c)       Siapkan alat
d)       Cuci tangan
e)      Mengosongkan kandung kemih → Jika ibu tidak mampu berkemih sendiri, lakukan   pemasangan kateter
f)       Jepit tali pusat dengan klem pada jarak 5-10 Cm dari vulva, tegangkan dengan 1  tangan sejajar dengan lantai
g)      Masukkan tangan ke dalam kavum uteri secar obstetric dengan menelusuri sisi bawah tali pusat
h)    Satelah mencapai bukaan serviks, minta asisten untuk menegangkan klem tali pusat    kemudian pindahkan tangan luar untuk menahan fundus
i)     Sambil menahan fundus, masukkan tangan hingga ke kavum uteri sampai mencapai tempat implantasi placenta
j)    Bentangkan tangan obstetric menjadi datar seperti member salam
k)   Tentukan implantasi placenta, temukan tepi placenta paling bawah
 → Bila placenta berimplantasi di korpus belakang, tali pusat tetap di sebelah atas dan sisipkan  ujung jari diantara placenta dan dinding uterus dimana punggung tangan menghadap ke bawa
 → Bila di korpus depan maka pindahkan tangan ke sebelah atas tali pusat dan sisipkan   ujung jari tangan diantara placenta dan dinding uterus dimana punggung tangan menghadap ke atas
l)     Setelah ujung jari masuk diantara placenta dan dinding uterus maka perluas
 →  Pelepasan placenta dengan jalan menggeser tangan ke kanan dan kiri sambil digeserkan keatas hingga semua pelekatan placenta terlepas dari dinding uterus.
m)  Sementara 1 tangan masih di dalam kavum uteri, lakuakn eksplorasi untuk menilai tidak ada sisa placenta yang tertinggal
n)     Pindahkan tangan luar dari fundus ke supra symfisis kemudian minta asisten untk menarik tali pusat sambil tangan dalam membawa placenta keluar
o)    Lakukan penekanan uterus, kea rah dorso cranial setelah placenta di lahirkan dan tempatkan placenta di dalam wadah yang disediakan
p)    Periksa kembali tanda vital ibu
q)    Beri tahu ibu dan keluarga bahwa tindakan telah selesai tetapi ibu masih memerlukan pemantauan dan asuhan lanjutan
r)     Lakukan pemantauan ibu hingga 2 jam pasca tindakan
s)     Segera setelah placenta lahir, lakukan masase fundus uteri
t)      Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 15 detik, lakukan KBI, KBE, KBA
    ASUHAN KEBIDANAN PADA POST PLACENTA MANUAL
  1. Observasi kontraksi uterus setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua  setiap 30  menit.
  2. Observasi TD dan nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua setiap 30 menit. 
  3. Observasi suhu setiap 1 jam.
  4. Observasi TFU, UC dan kandung kemih setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua setiap 30 menit.
  5. Observasi perdarahan.
  6.  Pemenuhan kebutuhan cairan dengan RL
  7.  Pemenuhan kebutuhan nutrisi
  8.  Pemberian terapi obat terutama antibiotik , analgesik
  9.  Pemberian tablet Fe
  10.  Pemberian vit A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar