Selasa, 19 Februari 2013

Infertilitas

BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN INFERTILITAS      
         Infertilitas atau ketidaksuburan adalah suatu kondisi di mana pasangan suami istri belum mampu memiliki anak walaupun telah melakukan hubungan seksual sebanyak 2-3 kali seminggu dalam kurun waktu 1 tahun dengan tanpa menggunakanalat kontrasepsi dalam         bentuk apapun.Secara medis infertilitas di bagi atas 2 yaitu :
1.      Infertilitas primer berarti pasangan suami istri belum mampu dan belum pernah memiliki anak setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun.
2.      Infertilitas sekunder berarti pasangan suami istri telah atau pernah memiliki anak sebelumnya, tetapi saat ini belum mampu memiliki anak lagi setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalamn bentuk apapun.
Sebanyak 60%-70% pasangan yang telah menikah akan memiliki anak pada tahun pertama pernikahan mereka. Sebanyak 20% akan memiliki anak pada tahun ke-2 dari usia pernikahan. Sebanyak 10-20% sisanya akan memiliki anak pada tahun ke-3 atau lebih atau tidak akan pernah memiliki anak (Djuwantono,2008).
Walaupun pasangan suami-istri dianggap infertile, bukan tidak mungkin kondisi infertile sesungguhnya hanya dialami oleh sang suami atau sang istri. Hal tersebut dapat dipahami karena proses pembuahan yang berujung pada kehamilan dan lahirnya seorang manusia baru merupakan kerjasama antara suami dan istri. Kerjasama tersebut mengandung arti bahwa dua factor yang harus dipenuhi adalah: (1) suami memiliki sistem dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan dan menyalurkan sel kelami pria (spermatozoa) ke dalam organ reproduksi istri dan (2) istri memiliki sistem dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan sel kelamin wanita (sel telur atau ovum) yang dapat dibuahi oleh spermatozoa dan memiliki rahim yang dapat menjadi tempat perkembangan janin, embrio, hingga bayi berusia cukup bulan dan dilahirkan. Apabila salah satu dari dua factor yang telah disebutkan tersebut tidak dimiliki oleh pasangan suami-istri, pasangan tersebut tidak akan mampu memiliki anak.
Berdasarkan hal yang telah disebutkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pasangan suami-istri dianggap infertile apabila memenuhi syarat-syarat berikut (Djuwantono,2008)
1.      Pasangan tersebut berkeinginan untuk memiliki anak
2.      Selama 1 tahun atau lebih berhubungan seks, istri belum mendapatkan kehamilan.
3.      Frekuensi hubungan seks minimal 2-3 kali dalam setiap minggunya
4.      Istri maupun suami tidak pernah menggunakan alat atau metode kontrasepsi, baik kondom, obat-obatan, dan alat lain yang berfungsi untuk mencegah kehamilan.
Hal-hal yang paling penting dalam berhasil atau tidaknya pengobatan infertilitas antara lain (Permadi,2008)
1.      Ketepatan diagnosis penyebab infertilitas
2.      Kondisi penyakit yang menjadi penyebab infertilitas
3.      Usia pasien
4.      Ketepatan metode pengobatan
5.      Kepatuhan pasien dalam berobat
B.     FAKTOR PENYEBAB INFERTILITAS     
Faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas, antara lain:
1.      Umur
Kemampuan reproduksi wanita menurun drastis setelah umur 35 tahun. Hal ini dikarenakan cadangan sel telur yang makin sedikit. Fase reproduksi wanita adalah masa sistem reproduksi wanita berjalan optimal sehingga wanita berkemampuan untuk hamil. Fase ini dimulai setelah fase pubertas sampai sebelum fase menopause.
Fase pubertas wanita adalah fase di saat wanita mulai dapat bereproduksi, yang ditandai dengan haid untuk pertama kalinya (disebut menarche) dan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder, yaitu membesarnya payudara, tumbuhnya rambut di sekitar alat kelamin, dan timbunan lemak di pinggul. Fase pubertas wanita terjadi pada umur 11-13 tahun. Adapun fase menopause adalah fase di saat haid berhenti. Fase menopause terjadi pada umur 45-55 tahun.
Pada fase reproduksi, wanita memiliki 400 sel telur. Semenjak wanita mengalami menarche sampai menopause, wanita mengalami menstruasi secara periodik yaitu pelepasan satu sel telur. Jadi, wanita dapat mengalami menstruasi sampai sekitar 400 kali. Pada umur 35 tahun simpanan sel telur menipis dan mulai terjadi perubahan keseimbangan hormon sehingga kesempatan wanita untuk bisa hamil menurun drastis. Kualitas sel telur yang dihasilkan pun menurun sehingga tingkat keguguran meningkat. Sampai pada akhirnya kira-kira umur 45 tahun sel telur habis sehingga wanita tidak menstruasi lagi alias tidak dapat hamil lagi. Pemeriksaan cadangan sel telur dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah atau USG saat menstruasi hari ke-2 atau ke-3.
2.      Lama infertilitas
Berdasarkan laporan klinik fertilitas di Surabaya, lebih dari 50% pasangan dengan masalah infertilitas datang terlambat. Terlambat dalam artian umur makin tua, penyakit pada organ reproduksi yang makin parah, dan makin terbatasnya jenis pengobatan yang sesuai dengan pasangan tersebut.
3.      Stress
Stres memicu pengeluaran hormon kortisol yang mempengaruhi pengaturan hormon reproduksi.
4.      Lingkungan
Paparan terhadap racun seperti lem, bahan pelarut organik yang mudah menguap, silikon, pestisida, obat-obatan (misalnya: obat pelangsing), dan obat rekreasional (rokok, kafein, dan alkohol) dapat mempengaruhi sistem reproduksi. Kafein terkandung dalam kopi dan teh.
5.      Hubungan Seksual
Penyebab infertilitas ditinjau dari segi hubungan seksual meliputi: frekuensi, posisi, dan melakukannya tidak pada masa subur.
6.      Frekuensi
Hubungan intim (disebut koitus) atau onani (disebut masturbasi) yang dilakukan setiap hari akan mengurangi jumlah dan kepadatan sperma. Frekuensi yang dianjurkan adalah 2-3 kali seminggu sehingga memberi waktu testis memproduksi sperma dalam jumlah cukup dan matang.
7.      Posisi
Infertilitas dipengaruhi oleh hubungan seksual yang berkualitas, yaitu dilakukan dengan frekuensi 2-3 kali seminggu, terjadi penetrasi dan tanpa kontrasepsi. Penetrasi adalah masuknya penis ke vagina sehingga sperma dapat dikeluarkan, yang nantinya akan bertemu sel telur yang “menunggu” di saluran telur wanita. Penetrasi terjadi bila penis tegang (ereksi). Oleh karena itu gangguan ereksi (disebut impotensi) dapat menyebabkan infertilitas. Penetrasi yang optimal dilakukan dengan cara posisi pria di atas, wanita di bawah. Sebagai tambahan, di bawah pantat wanita diberi bantal agar sperma dapat tertampung. Dianjurkan, setelah wanita menerima sperma, wanita berbaring selama 10 menit sampai 1 jam bertujuan memberi waktu pada sperma bergerak menuju saluran telur untuk bertemu sel telur.
8.      Masa Subur
Marak di tengah masyarakat bahwa supaya bisa hamil, saat berhubungan seksual wanita harus orgasme. Pernyataan itu keliru, karena kehamilan terjadi bila sel telur dan sperma bertemu. Hal yang juga perlu diingat adalah bahwa sel telur tidak dilepaskan karena orgasme. Satu sel telur dilepaskan oleh indung telur dalam setiap menstruasi, yaitu 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Peristiwa itu disebut ovulasi. Sel telur kemudian menunggu sperma di saluran telur (tuba falopi) selama kurang-lebih 48 jam. Masa tersebut disebut masa subur.
9.      Kondisi Reproduksi Wanita
Kelainan terbanyak pada organ reproduksi wanita penyebab infertilitas   adalah endometriosis dan infeksi panggul, sedangkan kelainan lainnya yang lebih jarang kejadiannya adalah mioma uteri, polip, kista, dan  saluran telur tersumbat (bisa satu atau dua yang tersumbat.) gangguan pada wanita 
Ø  Masalah vagina
Masalah vagina yang dapat menghambat penyampaian adalah adanya      sumbatan atau peradangan. Sumbatan psikogen disebut  vaginismus atau disparenia, sedangkan sumbatan anatomik dapat karena bawaan atau perolehan.
Ø  Masalah serviks
Masalah serviks yang berpotensi mengakibatkan vertilitas adalah terdapat berbagai kelainan anatomi serviks yang berperan seperti terjadi cacat bawaan (atresia), polip serviks, stenosis akibat trauma, peradangan dan sineksia.
Ø  Masalah uterus
Masalah penyebab infertilitas yang dapat terjadi di uterus adalah distorsia kavum uteri karena sineksia, mioma atau polip, peradangan endometrium, dan gangguan kontraksiuterus
10.       Kondisi Reproduksi pria   
      Sperma berasal dari kata spermatozoa, yaitu sel kelamin jantan yang memiliki bulu cambuk. Bentuk sperma mirip kecebong.Sperma dihasilkan oleh testis. Cairan nutrisi sperma berupa cairan putih, kental, dan berbau khas yang disebut semen. Proses pengeluaran semen dan sperma disebut ejakulasi, sehingga cairannya disebut juga dengan cairan ejakulat.Sperma membawa sifat dari bapak, yang nantinya akan bertemu dengan sel telur yang membawa sifat dari ibu. Oleh karena itu, kualitas sperma dan sel telur yang baik menjadi factor penting dalam kehamilan.Gangguan yang terjadi pada pria.
ü  Gangguan di daerah sebelum testis (pretesticular)
Gangguan biasanya terjadi pada bagian otak, yaitu hipofisis yang bertugas mengeluarkan hormon FSH dan LH.Kedua hormon tersebut mempengaruhi testis dalam menghasilkan hormon testosteron, akibatnya produksi sperma dapat terganggu.Terapi yang bisa dilakukan adalah dengan terapi hormon.
ü  Gangguan didaerah testis (testicular)
Kerja testis dapat terganggu bila terkena trauma pukulan, gangguan fisik, atau infeksi.Bisa juga terjadi, selama pubertas testis tidak berkemban dengan baik, sehingga produksi sperma menjadi terganggu.
ü  Gangguan di daerah setelah testis (posttesticular)
Gangguan terjadi di saluran sperma sehingga sperma tidak dapat disalurkan dengan lancar, biasanya karena salurannya buntu.Penyebabnya bisa jadi  bawaan sejak lahir, terkena infeksi penyakit -seperti tuberkulosis (Tb)


C.    PENYAKIT PENYEBAB INFERTILITAS
1.      Endometriosis
Endometriosis adalah jaringan endometrium yang semestinya berada di lapisan paling dalam rahim (lapisan endometrium) terletak dan tumbuh di tempat lain. Endometriosisbisa terletak di lapisan tengah dinding rahim (lapisan myometrium) yang disebut jugaadenomyosis, atau bisa juga terletak di indung telur, saluran telur, atau bahkan dalam rongga perut.Gejala umum penyakit endometriosis adalah nyeri yang sangat pada daerah panggul terutama pada saat haid dan berhubungan intim, serta tentu saja infertilitas.
2.      Infeksi Panggul
             Infeksi panggul adalah suatu kumpulan penyakit pada saluran reproduksi wanita bagian atas, meliputi radang pada rahim, saluran telur, indung telur, atau dinding dalam panggul. Gejala umum infeksi panggul adalah: nyeri pada daerah pusar ke bawah (pada sisi kanan dan kiri), nyeri pada awal haid, mual, nyeri saat berkemih, demam, dan keputihan dengan cairan yang kental atau berbau. Infeksi panggul memburuk akibat haid, hubungan seksual, aktivitas fisik yang berat, pemeriksaan panggul, dan pemasangan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim, misalnya: spiral).
3.      Mioma Uteri
             Mioma uteri adalah tumor (tumor jinak) atau pembesaran jaringan otot yang ada di rahim.Tergantung dari lokasinya, mioma dapat terletak di lapisan luar, lapisan tengah, atau lapisan dalam rahim.Biasanya mioma uteri yang sering menimbulkan infertilitas adalah mioma uteri yang terletak di lapisan dalam (lapisan endometrium). Mioma uteribiasanya tidak bergejala. Mioma aktif saat wanita dalam usia reproduksi sehingga -saat menopause- mioma uteri akan mengecil atau sembuh.
4.      Polip
             Polip adalah suatu jaringan yang membesar dan menjulur yang biasanya diakibatkan olehmioma uteri yang membesar dan teremas-remas oleh kontraksi rahim.Polip dapat menjulur keluar ke vagina. Polip menyebabkan pertemuan sperma-sel telur dan lingkunganuterus terganggu, sehingga bakal janin akan susah tumbuh.
5.      Saluran Telur yang    Tersumbat
          Saluran telur yang tersumbat menyebabkan sperma tidak bisa bertemu dengan sel telur sehingga pembuahan tidak terjadi alias tidak terjadi kehamilan.Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui saluran telur yang tersumbat adalah dengan HSG (Hystero Salpingo Graphy), yaitu semacam pemeriksaan röntgen (sinar X) untuk melihat rahim dan saluran  telur.
6.      Sel Telur
          Kelainan pada sel telur dapat mengakibatkan infertilitas yang umumnya merupakan manifestasi dari gangguan proses pelepasan sel telur (ovulasi). Delapan puluh persen penyebab gangguan ovulasi adalah sindrom ovarium polikistik.Gangguan ovulasi biasanya direfleksikan dengan gangguan haid. Haid yang normal memiliki siklus antara 26-35 hari, dengan jumlah darah haid 80 cc dan lama haid antara 3-7 hari. Bila haid pada seorang wanita terjadi di luar itu semua, maka sebaiknya beliau memeriksakan diri ke dokter.
D.    PENGOBATAN INFERTILITAS
1.      Pemberian antibiotic
Pemberian antibiotik diberikan pada pria yang memiliki gangguan infeksi traktus genitalis yang menyumbat vas deferens atau merusak jaringan testis.
2.      Pembedahan
Tindakan pembedahan dapat dilakukan pada pasien mioma dan tuba yang tersumbat.Tindakan pembedahan ini akan meninggalkan parut yang dapat meyumbat atau menekuk tuba sehingga akhirnya memerlukan pembedahan untuk mengatasinya.
3.      Terapi
Terapi dapat dilakukan pada penderita endometriosis. Terapi endometriosis terdiri dari menunggu sampai terjadi kehamila sendiri, pengobatan hormonal,atau pembedahan konservatif.
4.      Tindakan pembedahan/operasi Varikokel.
Tindakan yang saat ini dianggap paling tepat adalah dengan operasi berupa pengikatan pembuluh darah yang melebar (varikokel) tersebut. Suatu penelitian dengan pembanding menunjukkan keberhasilan tindakan pada 66 % penderita berupa peningkatan jumlah sperma dan kehamilan, dibandingkan dengan hanya 10 % pada kelompok yang tidak dioperasi.
5.      Memberikan    suplemen vitamin
Infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya merupakan masalah bermakna karena meliputi 20 % penderita. Penanggulangannya berupa pemberian beberapa macam obat, yang dari pengalaman berhasil menaikkan jumlah dan kualitas sperma. Usaha menemukan penyebab di tingkat kromosom dan keberhasilan manipulasi genetik tampaknya menjadi titik harapan di masa datang.
6.      Tindakan operasi pada penyumbatan di saluran sperma
Bila sumbatan tidak begitu parah, dengan bantuan mikroskop dapat diusahakan koreksinya. Pada operasi yang sama, dapat juga dipastikan ada atau tidaknya produksi sperma di buah zakar.
7.      Menghentikan obat-obatan yang diduga menyebabkan gangguan sperma.
8.      Menjalani        teknik  reproduksi       bantuan
Dalam hal ini adalah inseminasi intra uterin dan program bayi tabung. Tindakan inseminasi dilakukan apabila ada masalah jumlah sperma yang sangat sedikit atau akibat masalah antobodi di mulut rahim. Pria dengan jumlah sperma hanya 5-10 juta/cc (dari normal 20 juta) dapat mencoba inseminasi buatan.
E.     PENCEGAHAN INFERTILITAS
Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah :
1.      Mengobati infeksi di organ ada berbagai jenis infeksi diketahui menyebabkan infertilitas seperti infeksi prostat, testis / buah zakar, maupun         saluran sperma.
2.      Menghindari rokok karena rokok mengandung zat-zat yang dapat meracuni pertumbuhan, jumlah dan kualitas sperma.
3.      Menghindari alcohol dan zat adiktif.
Alkohol dalam jumlah banyak dihubungkan dengan rendahnya kadar hormon testosteron yang tentu akan mengganggu pertumbuhan sperma. Ganja /mariyuana juga dikenal sebagai salah satu penyebab gangguan pertumbuhan sperma.
4.      Hindari obat yang mempengaruhi jumlah sperma, sepreti obat  darah tinggi.

Sabtu, 16 Februari 2013

Tanda-Tanda Pasti Kehamilan

Tanda Tanda Pasti Kehamilan Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, adalah kira-kira 280 hari (40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan, triwulan I dimulai dari konsepsi sampai 12 minggu, triwulan II dari 12 sampai 28 minggu dan triwulan III dari 28 sampai 40 minggu. Diagnosis dapat ditegakkan dengan riwayat kesehatan dan pemeriksaan klinis berdasarkan tanda gejala kehamilan. Lama kehamilan berlangsung sampai persalinan aterm sekitar 280 sampai 300 hari. Kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan yaitu :
  • triwulan I : 0 sampai 14 minggu
  • triwulan II : 14 sampai 28 minggu
  • triwulan III : 28 sampai 40 minggu
Untuk dapat menegakkan kehamilan maka dapat ditetapkan dengan melakukan penilaian terhadap beberapa tanda dan gejala hamil sehingga bidan dapat mendiagnosa kehamilan.
Tanda dan gejala kehamilan
Tanda – tanda pasti kehamilan
  • Gerakan janin yang dapat dilihat / dirasa / diraba, juga bagian – bagian janin
  • Denyut jantung janin: a. Didengar dengan stetoskop monoral Laennec; b. Dicatat dan didengar alat Doppler; c. Dicatat dengan feto Elektro Kardiogram; d. Dilihat pada Ultrasonografi ( USG )
  • Terlihat tulang – tulang janin dalam foto roentgen.
Tanda – tanda presumptive ( tidak pasti kehamilan )
  • Amenorhea ( tidak dapat haid ). Mengetahui tanggal hari pertama haid terakhir ( HT ), menentukan taksiran tanggal persalinan ( TTP ) menurut rumus Naegle TTP = HT + 7 , bulan HT – 3 dan tahun + 1
  • Mual dan muntah. Biasanya terjadi pada bulan pertama kehamilan hingga akhir triwulan pertama, sering terjadi di pagi hari sehingga disebut morning sickness, bila mual dan muntah berlebihan / terlalu sering disebut hiperemesis gravidarum
  • Mengidam. Sering meminta makanan maupun minuman tertentu terutama pada bulan – bulan triwulan pertama
  • Tidak tahan suatu bau – bauan
  • Pingsan
  • Tidak ada selera makan ( Anoreksia ) terutama pada triwulan pertama
  • Lelah ( Fatigue )
  • Payudara membesar, tegang dan sedikit nyeri karena pengaruh Esterogen dan Progesteron
  • Miksi sering karena kandung kemih tertekan oleh rahim
  • Konstipasi karena tonus – tonus otot usus menurun oleh pengaruh hormone steroid
  • Pigmentasi kulit karena pengaruh hormone Kortikosteroid Plasenta. Chloasma Gravidarum, areola mammae yang melebar dan menghitam, leher ada hiperpigmentasi dan dinding perut (Linea Nigra / Gricea )
  • Epulis : hipertropi dari papil gusi
  • Pemekaran vena ( varises ) pada kaki, betis dan vulva biasanya pada triwulan akhir
Tanda – tanda kemungkinan hamil
  • Perut membesar
  • Uterus membesar terjadi perubahan dalam bentuk besar dan konsistensi dari rahim
  • Tanda Hegar. Ditemukan pada kehamilan 6 – 12 minggu, yaitu adanya uterus segmen bawah rahim yang lebih lunak dari bagian yang lain
  • Tanda Chadwick. Adanya perubahan warna pada serviks dan vagina menjadi kebiru – biruan
  • Tanda Piscaseck. Yaitu adanya tempat yang kosong pada rongga uterus karena embrio biasanya terletak di sebelah atas, dengan bimanual akan terasa benjolan yang asimetris
  • Kontraksi – kontraksi kecil pada uterus bila dirangsang ( Braxton Hicks )
  • Teraba Ballotement
  • Reaksi kehamilan positif
Tanda pasti kehamilan
  • Teraba bagian-bagian janin dan dapat dikenal bagianbagian janin.
  • Terdengar dan dapat dicatat bunyi jantung janin
  • Dapat dirasakan gerakan janin
  • Pada pemeriksaan dengan sinar Rotgen tampak kerangka janin.
  • Dengan alat USG dapat diketahui kantung janin, panjang janin, dan dapat diperkirakan tuanya kehamilan serta dapat menilai pertumbuhan janin
Pemeriksaan Diagnostik Kehamilan
Pemeriksaan Diagnostik Kehamilan.
  • Riwayat
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan panggul
  • Uji Lab.
Uji kehamilan
  • Urin. Uji semacam ini tersedia dipasaran atau distribusi medis. Uji tersebut dinyatakan positif jika konsentrasi hCG dalam urin mencapai 25 mI, biasanya terjadi pada saat tidak menstruasi atau 12-14 hari setelah konsepsi. Uji dengan hasil positif mempunyai nilai prediksi terhadap kehamilan sebanyak 99,5 %. Hasil negatif palsu dapat terjadi 7 karena rendahnya konsentrasi hCG, sebagai akibat urin yang terlalu encer, tanggal yang tidak akurat, KE atau gangguan pada ovum.
  • Serum Beta hCG a. Dideteksi 7 sampai 11 hari setelah konsepsi; b. Dilakukan 2 kali setiap 2 hari selama 10 minggu; c. Penyebab turunnya hCG biasanya karena aborsi spontan, ovum yang terganggu, dan kehamilan yang dipertahankan setelah 12 minggu.
Mengidentifikasi Tanda Dan Gejala Penyimpangan Dari Keadaan Normal Kehamilan
Deteksi dini terhadap komplikasi kehamilan adalah upaya penjaringan yang dilakukan untuk menemukan penyimpangan -penyimpangan yang terjadi Upaya yang dapat dilakukan ibu dalam deteksi dini terhadap komplikasi selama kehamilan ibu secara dini.


Kehamilan:
  • Memeriksakan kehamilan sedini mungkin dan teratur ke Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit paling sedikit 4 kali selama masa kehamilan.
  • Imunisasi TT 2x.
  • Bila ditemukan kelainan-kelainan risiko tinggi pemeriksaan harus lebih sering dan lebih intensif.
  • Makan makanan yang bergizi yaitu memenuhi 4 sehat 5 sempurna.
Hal-hal yang dapat dilakukan seorang ibu untuk menghindari terjadinya
  • komplikasi kehamilan: Dengan mengenal tanda-tanda bahaya kehamilan secara dini. tanda-tanda penyimpangan dari keadaan normal kehamilan. Segera Posyandu, Puskesmas, atau Rumah Sakit terdekat bila ditemukan
Faktor-faktor yang mempengaruhi upaya deteksi dini seseorang terhadap
  • komplikasi kehamilan: Tingkat Pendidikan; Informasi; Sosial Ekonomi dan Budaya
Tanda dan Gejala Penyimpangan dari Penyakit Ibu Yang Membahayakan Kehamilan
  • Penyakit Jantung Keluhan yang dirasakan oleh ibu hamil antara lain sesak napas,
  • Tuberkulosis Keluhan-keluhan yang dirasakan oleh ibu hamil antara lain batuk
  • Anemia Wanita tidak hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12 -15 gr%.
  • Malaria Keluhan yang dirasakan oleh ibu hamil antara lain panas tinggi, menggigil.
Mengidentifikasi Tanda dan Gejala Penyakit Kandungan Lainnya
  • Hidramnion Yaitu kehamilan dengan jumlah air ketuban lebih dari 2 liter.
  • Oligohidramnion. Bila banyaknya air ketuban kurang dari 500 cc.Biasanya cairan
  • Mola Hidatidosa
  • Varises vagina Sekitar 20-30% ibu hamil mengalami varises. Umumnya varises
  • Sindroma HELLP Sindroma HELLP adalah pre eklampsia dan eklampsia yang disertai dengan adanya hemolisis, peningkatan enzim hepar, disfungsi hepar dan trombositopenia. (H = Hemolisis; EL = Elevated Liver Enzim; LP = Low Platelets Count)


Jumat, 15 Februari 2013

Retensio Plasenta

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.  Definisi
    Retensio plasenta adalah apabila plasenta belum lahir setangah jam setelah janin lahir(Winkjosastro, 2010 ).
    Retensio plasenta adalah belum lepasnya plasenta dengan melebihi waktu setengah jam. Keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera. Bila retensio plasenta tidak diikuti perdarahan maka perlu diperhatikan ada kemungkinan terjadi plasenta adhesive, plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta. (Manuaba (2006:176).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa retensio plasenta ialah plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir, keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera.
Jenis-jenis retensio plasenta:       
a) Plasenta Adhesive : Implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis
b) Plasenta Akreta : Implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium.
c) Plasenta Inkreta : Implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
d) Plasenta Prekreta : Implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan serosa dinding uterus hingga ke peritonium
e) Plasenta Inkarserata : Tertahannya plasenta di dalam kavum uteri disebabkan oleh konstriksi ostium uteri. (Sarwono, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002:178).
Perdarahan hanya terjadi pada plasenta yang sebagian atau seluruhnya telah lepas dari dinding rahim. Banyak atau sedikitnya perdarahan tergantung luasnya bagian plasenta yang telah lepas dan dapat timbul perdarahan. Melalui periksa dalam atau tarikan pada tali pusat dapat diketahui apakah plasenta sudah lepas atau belum dan bila lebih dari 30 menit maka kita dapat melakukan plasenta manual.
Retensio plasenta (Placental Retention) merupakan plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta (rest placenta) merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini (Early Postpartum Hemorrhage) atau perdarahan post partum lambat (Late Postpartum Hemorrhage) yang biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan.
B.  Prognosis
Tergantung penanganan perdarahan.
C.  Etiologi atau Penyebab
Menurut Wiknjosastro (2007) sebab retensio plasenta dibagi menjadi 2 golongan ialah sebab fungsional dan sebab patologi anatomik.
1.    Sebab fungsional 
 a)    His yang kurang kuat (sebab utama)
 b)    Tempat melekatnya yang kurang menguntungkan (contoh : di sudut tuba)
 c)    Ukuran plasenta terlalu kecil
 d)    Lingkaran kontriksi pada bagian bawah perut 
2.  Sebab patologi anatomik (perlekatan plasenta yang abnormal)
Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh lebih dalam. Menurut tingkat perlekatannya :
a. Plasenta adhesiva : plasenta yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam.
b. Plasenta inkreta : vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua endometrium sampai ke miometrium.
c. Plasenta akreta : vili khorialis tumbuh menembus miometrium sampai ke serosa.
d. Plasenta perkreta : vili khorialis tumbuh menembus serosa atau peritoneum dinding rahim.
D. Tanda Dan Gejala
Gejala
Akreta parsial
Inkarserata
Akreta
Konsistensi uterus
Kenyal
Keras
Cukup
Tinggi fundus
Sepusat
2 jari bawah pusat
Sepusat
Bentuk uterus
Discoid
Agak globuler
Discoid
Perdarahan
Sedang – banyak
Sedang
Sedikit / tidak ada
Tali pusat
Terjulur sebagian
Terjulur
Tidak terjulur
Ostium uteri
Terbuka
Konstriksi
Terbuka
Pelepasan plasenta
Lepas sebagian
Sudah lepas
Melekat seluruhnya
Syok
Sering
Jarang
Jarang sekali, kecuali akibat inversion oleh tarikan kuat pada tali pusat
E. Akibat
     Dapat menimbulkan bahaya perdarahan, infeksi karena sebagai benda mati, dapat terjadi
placenta inkarserata, dapat terjadi polip placenta dan terjadi degenarasi ganas korio karsinoma.
F. Penanganan dan Terapi
Untuk memperkecil komplikasi dapat dilakukan tindakan profilaksis dengan :
a. Memberikan uterotonika IV atau IM
b. Memasang tamponade uterovaginal
c. Memberikan antibiotic
d. Memasang infuse dan persiapan transfuse darah
        Placenta manual merupakan tindakan operasi kebidanan untuk melahirkan retensio placenta yang dilakukan secra manual ( menggunakan tangan ) dari tempat implantasinya dan kemudian melahirkannya keluar dari kavum uteri.
Penanganan dengan cara Manual Plasenta: 
a)      Pemasangan cairan infuse → Tujuannya untuk menambah cairan / tenaga ibu
b)       Menjelaskan kepada ibu tentang prosedur dan tujuan tindakan
c)       Siapkan alat
d)       Cuci tangan
e)      Mengosongkan kandung kemih → Jika ibu tidak mampu berkemih sendiri, lakukan   pemasangan kateter
f)       Jepit tali pusat dengan klem pada jarak 5-10 Cm dari vulva, tegangkan dengan 1  tangan sejajar dengan lantai
g)      Masukkan tangan ke dalam kavum uteri secar obstetric dengan menelusuri sisi bawah tali pusat
h)    Satelah mencapai bukaan serviks, minta asisten untuk menegangkan klem tali pusat    kemudian pindahkan tangan luar untuk menahan fundus
i)     Sambil menahan fundus, masukkan tangan hingga ke kavum uteri sampai mencapai tempat implantasi placenta
j)    Bentangkan tangan obstetric menjadi datar seperti member salam
k)   Tentukan implantasi placenta, temukan tepi placenta paling bawah
 → Bila placenta berimplantasi di korpus belakang, tali pusat tetap di sebelah atas dan sisipkan  ujung jari diantara placenta dan dinding uterus dimana punggung tangan menghadap ke bawa
 → Bila di korpus depan maka pindahkan tangan ke sebelah atas tali pusat dan sisipkan   ujung jari tangan diantara placenta dan dinding uterus dimana punggung tangan menghadap ke atas
l)     Setelah ujung jari masuk diantara placenta dan dinding uterus maka perluas
 →  Pelepasan placenta dengan jalan menggeser tangan ke kanan dan kiri sambil digeserkan keatas hingga semua pelekatan placenta terlepas dari dinding uterus.
m)  Sementara 1 tangan masih di dalam kavum uteri, lakuakn eksplorasi untuk menilai tidak ada sisa placenta yang tertinggal
n)     Pindahkan tangan luar dari fundus ke supra symfisis kemudian minta asisten untk menarik tali pusat sambil tangan dalam membawa placenta keluar
o)    Lakukan penekanan uterus, kea rah dorso cranial setelah placenta di lahirkan dan tempatkan placenta di dalam wadah yang disediakan
p)    Periksa kembali tanda vital ibu
q)    Beri tahu ibu dan keluarga bahwa tindakan telah selesai tetapi ibu masih memerlukan pemantauan dan asuhan lanjutan
r)     Lakukan pemantauan ibu hingga 2 jam pasca tindakan
s)     Segera setelah placenta lahir, lakukan masase fundus uteri
t)      Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 15 detik, lakukan KBI, KBE, KBA
    ASUHAN KEBIDANAN PADA POST PLACENTA MANUAL
  1. Observasi kontraksi uterus setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua  setiap 30  menit.
  2. Observasi TD dan nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua setiap 30 menit. 
  3. Observasi suhu setiap 1 jam.
  4. Observasi TFU, UC dan kandung kemih setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua setiap 30 menit.
  5. Observasi perdarahan.
  6.  Pemenuhan kebutuhan cairan dengan RL
  7.  Pemenuhan kebutuhan nutrisi
  8.  Pemberian terapi obat terutama antibiotik , analgesik
  9.  Pemberian tablet Fe
  10.  Pemberian vit A