Senin, 21 Januari 2013

Asfiksia Neonaturum

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera lahir (Prawiro Hardjo, Sarwono, 1997).
Asfiksia Neonatotum adalah keadaan dimana bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini biasanya disertai dengan keadaan dimana hipoksia dan hiperapneu serta sering berakhir dengan asidosis (Santoso NI, 1992).
Asfiksia neonatorum ialah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir (Hutchinson, 1967). Keadaan ini disertai dengan hipoksia, hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis. Hipoksia yang terdapat pada penderita asfiksia ini merupakan faktor terpenting yang dapat menghambat adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan ekstrauterin (Gabriel Duc, 1971). Penilaian statistic dan pengalaman klinis atau patologi anatomis menunjukan bahwa keadaan ini merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir. Hal ini dibuktikan oleh Drage dan Berendes (1966) yang mendapatkan bahwa skor Apgar yang rendah sebagai manifestasi hipoksia berat pada bayi saat lahir akan memperlihatkan angka kematian yang tinggi.
Haupt (1971) memperlihatkan bahwa frekuensi gangguan perdarahan pada bayi sebagai akibat hipoksia sangat tinggi. Asidosis, gangguan kerdiovaskular serta komplikasinya sebagai akibat langsung dari hipoksia merupakan penyebab utama kegagalan adaptasi bayi baru lahir (James, 1958). Kegagalan ini akan sering berlanjut menjadi sindrom gangguan pernafasan pada hari-hari pertama setelah lahir (James, 1959). Penyelidikan patologi anatomis yang dilakukan oleh Larrhoce dan Amakawa (1971) menunjukkan nekrosis berat dan difus  pada jaringan otak bayi yang meninggal karena hipoksia. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa sekuele neurologis sering ditemukan pada penderita asfiksia berat. Keadaan ini sangat menghambat pertumbuhan fisis dan mental bayi di kemudian hari. Untuk menghindari atau mengurangi kemungkinan tersebut diatas, perlu dipikirkan tindakan istimewa yang tepat dan rasionil sesuai dengan perubahan yang mungkin terjadi pada penderita asfiksia.
            Asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan dengan sempurna, sehingga tindakan perawatan dilaksanakan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mengatasi gejala lanjut yang mungkin timbul. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, beberapa faktor perlu dipertimbangkan dalam menghadapi bayi dengan asfiksia.
B.     Etiologi
Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit-menit pertama kelahiran dan kemudian disusul dengan pernafasan teratur. Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke janin, akan terjadi asfiksia janin atau neonatus. Gangguan ini dapat timbul pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. Hampir sebagian besar asfiksia bayi baru lahir ini merupakan kelanjutan asfiksia janin, karena itu penilaian janin selama masa kehamilan, persalinan memegang peranan yang sangat penting untuk keselamatan bayi. Gangguan yang timbul pada akhir kehamilan atau persalinan hampir selalu disertai anoksia/hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia neonatus dan bayi mendapat perawatan yang adekuat dan maksimal pada saat lahir.
Penyebab kegagalan pernafasan pada bayi, adalah :
1.      Faktor ibu
Hipoksia ibu dapat menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya. Hipoksia ibu ini dapat terjadi kerena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika atau anastesia dalam.Gangguan aliran darah uterus dapat mengurangi aliran darah pada uterus yang menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke plasenta dan janin. Hal ini sering ditemukan pada keadaan ; gangguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni, atau tetani uterus akibat penyakit atau obat, hipotensi mendadak pada ibu karna perdarahan, hipertensi pada penyakit eklamsi dan lain-lain.
2.       Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta. Asfiksi janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan plasenta, dan lain-lain.
3.      Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan gangguan aliran darah dalam pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan tali pusat menumbung, melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir dan lain-lain.
4.      Faktor neonatus
Depresi pusat pernafasan pada BBL dapat terjadi karena ; pemakaian obat anastesi/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin, traoma yang terjadi pada persalinan mosalnya perdarahan intra cranial, kelainan kongenital pada bayi masalnya hernia diafragmatika, atresia atau stenosis saluran pernafasan,hipoplasia paru dan lain-lain.
C.    Patofisiologi
Selama kehidupan di dalam rahim, paru janin tidak berperan dalam pertukaran gas oleh karena plasenta menyediakan  oksigen dan mengangkat CO2 keluar dari tubuh janin. Pada keadaan ini paru janin tidak berisi udara, sedangkan alveoli janin berisi cairan yang diproduksi didalam paru sehingga paru janin tidak berfungsi untuk respirasi. Sirkulasi darah dalam paru saat ini sangat rendah dibandingkan dengan setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh karena konstriksi dari arteriol dalam paru janin. Sebagian besar sirkulasi darah paru akan melewati Duktus Arteriosus (DA) tidak banyak yang masuk kedalam arteriol paru.
Segera setelah lahir bayi akan menariknafas yang pertama kali (menangis), pada saat ini paru janin mulai berfungsi untuk respirasi. Alveoli akan mengembang udara akan masuk dan cairan yang ada didalam alveoli akan meninggalkan alveoli secara bertahap. Bersamaan dengan ini arteriol paru akan mengembang dan aliran darah kedalam paru akan meningkat secara memadai. Duktus Arteriosus (DA) akan mulai menutup bersamaan dengan meningkatnya tekanan oksigen dalam aliran darah. Darah dari jantung kanan (janin) yang sebelumnya melewati DA dan masuk kedalam Aorta akan mulai memberi aliran darah yang cukup berarti kedalam arteriole paru yang mulai mengembang DA akan tetap tertutup sehingga bentuk sirkulasi extrauterin akan dipertahankan.
Hipoksia janin atau bayi baru lahir sebagai akibat dari vasokonstriksi dan penurunan perfusi pru yang berlanjut dengan asfiksia, pada awalnya akan terjadi konstriksi Arteriol pada usus, ginjal, otot dan kulit sehingga penyediaan Oksigen untuk organ vital seperti jantung dan otak akan meningkat. Apabila askfisia berlanjut maka terjadi gangguan pada fungsi miokard dan cardiac output. Sehingga terjadi penurunan penyediaan oksigen pada organ vital dan saat ini akan mulai terjadi suatu “Hypoxic Ischemic Enchephalopathy (HIE) yang akan memberikan gangguan yang menetap pada bayi sampai dengan kematian bayi baru lahir. HIE ini pada bayi baru lahir akan terjadi secara cepat dalam waktu 1-2 jam, bila tidak diatasi secara cepat dan tepat (Aliyah Anna, 1997).
D.    Tanda dan gejala klinis
Pada asfiksia tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya :
1.      Hilang sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung.
2.      Terjadinya asidosis metabolic akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehingga menimbulkan kelemahan jantung.
3.      Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah mengalami gangguan.
Gejala klinis
Bayi yang mengalami kekurangan O2 akan terjadi pernafasan yang cepat dalam periode yang singkat apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan berhenti, denyut jantung juga menurun, sedangkan tonus neuromuskular berkurang secara barangsur-angsur dan memasuki periode apnue primer. Gejala dan tanda asfiksia neonatorum yang khas antara lain meliputi pernafasan cepat, pernafasan cuping hidung, sianosis, nadi cepat.
Gejala lanjut pada asfiksia :
1.      Pernafasan megap-magap dalam
2.      Denyut jantung terus menurun
3.      Tekanan darah mulai menurun
4.      Bayi terlihat lemas (flaccid)
5.      Menurunnya tekanan O2 anaerob (PaO2)
6.      Meningginya tekanan CO2 darah (PaO2)
7.      Menurunnya PH (akibat acidosis respiratorik dan metabolik)
8.      Dipakainya sumber glikogen tubuh anak metabolisme anaerob
9.      Terjadinya perubahan sistem kardiovaskular
10.   Pernafasan terganggu
11.   Detik jantung berkurang
12.   Reflek / respon bayi melemah
13.  Tonus otot menurun
14.  Warna kulit biru atau pucat
E.     Kemungkinan komplikasi yang muncul
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :
a.       Edema otak & Perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun, keadaaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak, hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak.
b.      Anuria atau oliguria
Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia, keadaan ini dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit.
c.       Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak efektif.
d.      Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.

F.     Pencegahan dan penanganan asfiksia neonatorum
Pencegahan yang komprehensif dimulai dari masa kehamilan, persalinan dan beberapa saat setelah persalinan. Pencegahan berupa :
a)    Melakukan pemeriksaan antenatal rutin minimal 4 kali kunjungan
b)    Melakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap pada kehamilan yang diduga berisiko bayinya lahir dengan asfiksia neonatorum.
c)    Memberikan terapi kortikosteroid antenatal untuk persalinan pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu.
d)    Melakukan pemantauan yang baik terhadap kesejahteraan janin dan deteksi dini terhadap tanda-tanda asfiksia fetal selama persalinan dengan kardiotokografi.
e)    Meningkatkan ketrampilan tenaga obstetri dalam penanganan asfiksia neonatorum di masing-masing tingkat pelayanan kesehatan.
f)     Meningkatkan kerjasama tenaga obstetri dalam pemantauan dan penanganan persalinan.
g)    Melakukan Perawatan Neonatal Esensial yang terdiri dari :
§  Persalinan yang bersih dan aman
§   Stabilisasi suhu
§   Inisiasi pernapasan spontan
§   Inisiasi menyusu dini
§   Pencegahan infeksi serta  pemberian imunisasi
Penanganan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai ABC resusitasi, yaitu :
1. Memastikan saluran terbuka
- Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi bahu diganjal 2-3 cm.
- Menghisap mulut, hidung dan kadang trachea.
- Bila perlu masukkan pipa endo trachel (pipa ET) untuk memastikan saluran pernafasan terbuka.
2. Memulai pernafasan
- Memakai rangsangan taksil untuk memulai pernafasan
- Memakai VTP bila perlu seperti : sungkup dan balon pipa ETdan balon atau mulut ke mulut (hindari paparan infeksi).
3. Mempertahankan sirkulasi
- Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara
- Kompresi dada.
- Pengobatan

Minggu, 20 Januari 2013

Radang Genitalia Interna

MELAKSANAKAN ASUHAN KEBIDANAN PADA RADANG GENETALIA INTERNA
CERVIKSITIS
Infeksi serviks kemungkinan lebih sering terjadi dari pada yang terlihat. Mengingat peristiwa laserasi umum dijumpai, dan serviks sendiri biasanya ditempati kuman-kuman yang patogen. Lagipula, mengingat laserasi serviks yang sering langsung meluas ke dalam jaringan di dasar ligamentum kardinale, infeksi tersebut mudah menyebabkan limfangitis, parametritis dan bakteremia.
Pengobatan :
Luka yang terinfeksi, seperti halnya luka bedah yang terinfeksi lainnya, harus diatasi dengan pemasangan drainase. Salah satu terapi kombinasi antibiotik berspektrum luas seperti dibicarakan diatas, harus diberikan pada keadaan ini. Rasa nyeri diringankan dengan penggunaan preparat analgesik yang efektif dan bila terjadi retensi urin, pemasangan indwelling catheter harus dilakukan.
ENDOMETRIOSIS
Endometriosis yang aktif dan berat merupakan komplikasi yang tidak sering ditemukan pada kehamilan. Namun demikian, wanita dengan endometriosis dapat hamil dan dalam perjalanan ke Endometriosis biasanya disebabkan oleh gangguan hormonal.
Gejalanya seperti : gangguan siklus menstruasi yang pendek kurang dari 21 hari, dismenorhea yang kuat, infertilitas, dan apabila di USG akan terlihat 2 buah uterus.
Penatalaksanaan : - Pengangkatan jaringan dengan tindakan operatif
-          Pemberian antibiotic berspectrum luas dosis tinggi untuk mencegah penyebaran ke jaringan lain
-          Pemberian anlgetik tanpa hormonal
Komplikasi yang langka dalam endomeriosis ovarium dalam kehamilan adalah ruptura kista endometrium dengan gambaran klinis yang memberikan kesan ke arah pielonefritis, apendisitis akut atau kehamilan tuba. Gambaran klinis lainnya adalah pembesaran endometrioma pelvic yang menyebabkan distosia persalianan. Namun demikian, sebagian besar wanita dnegan endometriosis yang tidak dikenali, jelas dapat menjalani kehamilan dan persalinannya tanpa komplikasi apapun.
PARAMETRITIS ( SELLULITIS PELVIKA )
Sellulitis pelvika ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai dengan rasa nyeri dfi kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan selulitis pelvika. Pada perkembangan proses peradangan lebih lanjut gejala-gejala sellulitis pelvika menjadi lebih jela. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri di sebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul, dapat meluas ke berbagai jurusan. Di tengah-tengan jaringan yang meradang itu bisa tumbuh abses. Dalam hal ini, suhu yang mula-mula tinggi secara menetap menjadi naik-turun disertai dengan menggigil. Penderita nampak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri. Dalam 2/3 kasus tidak terjadi pembentukan abses, dan suhu menurun dalam beberapa minggu. Tumor di sebelah uterus mengecil sedikit demi sedikit, dan akhirnya terdapat parametrium yang kaku.
Jika terjadi abses, nanah harus dikeluarkan karena selalu ada bahaya bahwa abses mencari jalan ke rongga perut yang menyebabkan peritonitis, ke rectum, atau ke kandung kencing.
ADNEXITIS
Adnexitis ini biasanya menyerang pada tuba dan jaringan sekitarnya. Pada infeksi masa puerperalis, kelainan yang mengenai tuba falopi seringkali hanya perisalpinitis tanpa diikuti oklusi tuba, sterilisasi di kemudian hari dan kemandulan. Salpingitis primer karena penyakit gonore selama masa puerperalis jarang ditemukan. Abses ovarium dapat terjadi sebagai komplikasi infeksi masa puerpuralis yang munkin akibat invasi bakteri melalui ruptura selubung ovarium. Abses biasanya unilateral dan pasien biasanya datang 1 sampai 2 minggu setelah melahirkan. Pada banyak kasus, ruptura bases akan menyebabkan peritonitis tampak jelas, tindakan yang dilakukan pada mulanya berupa pemberian preparat entibiotik intravena saja, tetapi drainase biasanya juga diperlukan dan juga bias mendorong dilakukannya eksplorasi bedah.
PERITONITIS
Adanya gangguan pada system pencernaan. Biasanya nyeri pada symfisis kiri dan tekan. Penyulit ini jarang dijumpai apabila terapi segera diberikan, akan tetapi nisa ditemukan pada pasien infeksi pasca secsio sesarea apabila terjadi nekrosis dan terlepasnya insisi, dan juga bias terjadi karena meluasnya endometritis. Tetapi juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforotis dan sellulitis pelvika. Selanjutnya, ada kemungkinan bahwa abses pada sellusitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan menyebabkan peritonitis. Peritonitis juga kadang dijumpai pada wanita dengan riwayat SC dan menjalani persalinan pervaginam.
Secara klinis, peritonitis nifas mirip dengan peritonitis bedah, kecuali bahwa rigidaitas abdomen biasanya kurang meninjol karena pada kehamilan terjadi peregangan abdomen. Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis. Gejalanya tidak seberat pada peritonitis umum, penderita demam, nyeri perut bagian bawah, yaitu karena distensi usus yang hebat terjadi karena ileus paralitik. Tetapi keadaan umum tetap baik. Pada pelvioperitonitis bias terjadi pertumbuhan bases. Nanah yang biasanya terkumpul dalam kavum Douglas harus di keluarkan dnegan kolpotomi posterior untuk mencegah keluarnya melalui rectum atau kandung kencing.
Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen dan merupakan penyakit berat. Suhu mneingkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri ada defense musculire. Muka menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingain; terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica.
Kausa peritonitis generalisata perlu diidentifikasi. Apabila infeksi dimulai di uterus dan kemudian ke peritoneum, terapi biasanya bersifat medis. Sebaliknya, peritonitis akibat lesi usus atau nekrosis insisi uterus sebaiknya diterapi secara bedah. Terapi antimikroba dilanjutkan.
Penanganan pada peritonitis :
a. Pasang selang nasogastrik
b. Infus cairan Ringr Laktat
c. Berikan antibiotik kombinasi, sampai 48 jam bebas panas
• Ampisilin 2 g I.V. tiap 24 jam
• Ditambah gentamisin 5 mg/kg .I.V. tiap 24 jam
• Ditambah metronidasol 500 mg I.V. tiap 8 jam
d. Jika perlu lakukan laparatoni untuk drainase
                              
PELVIKSISTIS
Meskipun segera dilakukan pengobatan antibiotika yang tepat untuk mengatasi metritis, kadang-kadang suatu flegmon parametrium akan mengalami supurasi sehingga terbentuk massa benjolan pada ligamentum latum yang berfluktuasi dan bias menonjol diatas ligamentum inguinale pouparti. Dalam keadaan ini, wanita tersebut mungkin tidak menunjukan gejala yang semakin memburuk tetapi panas tetap bertahan. Begitu trdapat ruptura abses ke dalam kavum peritonii, peritonitis yang bias membawa kematian dapat terjadi. Kemungkinan lebih besar lag, trjadi robekan ke arah anterior sehingga tidak terjangkau dengan tindakan drainase lewat jarum yang diarahkan oleh tomografi komputer. Kadang-kadang robekan terjadi ke arah posterior lewat ruang retroperitonium ke dalam septum rektovaginalis di mana drainase operatif mudah di laksanakan.
Gejalanya :           -    Nyeri daerah pinggang menjalar ke symfisis
-          Demam tinggi yang berhari- hari
-          Biasanya disebabkan oleh infeksi pada kuman
Tindakan : Pemberian anlgetik, antibiotic berspectrum luas.
MYOMETRITIS
1.      Pengertian
Myometritis / Metritis adalah radang miometrium. Metritis adalah infeksi uterus setlah persalinan yang merupakan salah satu penyebab terbesar kematian ibu.Penyakit ini tidak berdiri sendiri tetapi merupakan lanjutan dari endometritis, sehingga gejala dan terapinya seperti endometritis.
2.      Klasifikasi Myometritis
a.       Metritis Akut
Metritis akut biasanya terdapat pada abortus septik atau infeksi postpartum. Penyakit ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas yaitu merupakan lanjutan dari endometriosis. Kerokan pada wanita dengan endometrium yang meradang dapat menimbulkan metritis akut.
Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltrasi sel-sel radang. Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat tromboflebitis dan kadang – kadang dapat terjadi abses.
b.      Metritis Kronik
Metritis Kronik adalah diagnosa yang dahulu banyak dibuat atas dasar menometroragia dengan uterus yang lebih besar dari biasanya, sakit pinggang dan leukore. Akan tetapi pembesaran uterus pada multipara umumnya disebabkan oleh penambahan jaringan ikat akibat kehamilan, sedang gejala – gejala yang lain mungkin mempunyai sebab lain. Bila pengobatan terlambat ataukurang adekuat dapat menjadi abses, peritonitis, Syok septik, infeksi pelvik yang menahun, penyumbatan tuba dan infertilitas.
3.      Tanda dan gejala
Gejala metritis sama dengan gejala yang muncul pada Endometritis :
a.       Demam
b.      Nyeri perut bawah, keluar lochea berbau / purulent
c.       Perdarahan vaginal
d.      Sakit pinggang
e.       Nyeri tekan uterus
4.      Diagnosa
Pada metritis diagnosa hanya dapat dibuat secara Patologi Anatomis
5.      Komplikasi
Dapat terjadi penyebaran ke jaringan sekitar seperti :
a.       Parametritis ( infeksi sekitar rahim )
b.      Salpingitis ( infeksi saluran otot )
c.       Ooforitis ( infeksi indung telur )
d.      Pembentukan nanah sehingga terjadi abses pada tuba atau indung telur
(Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan,  407)
6.      Penanganan
Terapi miometritis :
a.       Antibiotika spektrum luas
-          Ampisilin 2 g iv / 6 jam
-          Gentamisin 5 mg kg / BB
-          Metronidasol 500 mg iv / 8 jam
b.      Profilaksi Antitetanus
c.       Evakuasi sisa hasil konsepsi
-          Antibiotik kombinasi
-          Transfusi jika diperlukan
KELAINAN PADA OVARIUM
SALPINGITIS
Salpingitis menyerang pada tuba dan biasanya nyeri pada saat ditekan,salpingitis juga menjalar ke ovarium hingga juga terjadi oophoritis. Salpingitis dan oophoritis diberi nama adnexitis.
Etiologi :
Paling sering disebabkan oleh gonococcus, disamping itu oleh staphylococ, streptococ dan bacteri Tuberculosis.
Infeksi dapat terjadi sebagai berikut :
Naik dari cavum uteri
Menjalar dari alat yang berdekatan seperti dari appendiks yang meradang
Haematogen terutama salpingitis tuberculosa
Salpingitis biasanya bilateral.
Gejala-gejala :
Demam tinggi dengan menggigil, pasien sakit keras.
Nyeri kiri dan kanan di perut bagian bawah terutama kalau ditekan
Mual dan muntah; jadi ada gejala abdomen akut karena terjadi perangsangan peritoneum.
Kadang-kadang ada tenesmi adanum karena proses dekat pada rectum atau sigmoid.
Toucher : nyeri kalau portio digoyangkan, nyeri kiri dan kanan dari uterus, kadang-kadang ada penebalan dari tuba, tuba yang sehat taj dapat diraba.
Harus diketahui bahwa tekanan pada ovarium selalu menimbulkan nyeri walaupun tidak meradang.