Kamis, 12 Desember 2013

2 kategori dan 3 kategori


2 kategori dan 3 kategori


Umur Ibu (Atas-Bawah Mean)
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
Dibawah Mean
1814
55,3
55,3
55,3
Diatas Mean
1465
44,7
44,7
100,0
Total
3279
100,0
100,0
Umur Ibu Berdasar Kurva Normal
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
Kurang
321
9,8
9,8
9,8
Antara
2228
67,9
67,9
77,7
Lebih
730
22,3
22,3
100,0
Total
3279
100,0
100,0
TB Ibu (Kurang Lebih Mean)
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
Kurang dari mean
2042
62,3
62,3
62,3
Lebih dari mean
1237
37,7
37,7
100,0
Total
3279
100,0
100,0
TB Ibu (Berdasarkan Kurva Normal)
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
Kurang
425
13,0
13,0
13,0
Antara
2181
66,5
66,5
79,5
Lebih
673
20,5
20,5
100,0
Total
3279
100,0
100,0
BB Ibu(Atas Bawah mean)
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
Dibawah mean
1865
56,9
56,9
56,9
Diatas mean
1414
43,1
43,1
100,0
Total
3279
100,0
100,0
BB Ibu(Berdasarkan Kurva Normal)
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
Kurang
474
14,5
14,5
14,5
Antara
2169
66,1
66,1
80,6
Lebih
636
19,4
19,4
100,0
Total
3279
100,0
100,0

Selasa, 20 Agustus 2013

Memilih Setia

    Sayang, MAAF untuk kali ini aku tidak menulis cerita tentangmu, tapi mungkin malah aku akan meminta kamu untuk mendengarkan ceritaku. Sayang, bukan aku tidak ingat, dan aku tidak bermaksud melupakanmu tapi mungkin ini sedikit dari cerita tentang kehidupanku setelah kepergianmu. Kini, datang dan pergi hadir dalam hidupku. Mereka banyak, sampai aku ketakutan. Takut akan rasa yang slalu aku jaga untukmu berubah. Ya, akhir-akhir ini aku punya banyak teman. Ada yang datang dan pergi lalu ada yang masih bertahan.
      Sayang, sedikit aku ceritakan tentang pria itu, dia berbeda denganmu sedikit lebay tapi aku tau dan bisa merasakan kalau dia orang baik sayang. Dia sering mengucapkan slamat pagi, mengingatkan makan, minum obat, slamat tidur, slamat malam, menyemangatiku bahkan ikut mendoakan yang terbaik untuk hidupku dan slalu ingin membuatku tersenyum yang seharusnya smua itu kamu yang lakukan padaku. Dia seperti berusaha menggantikan posisimu. Sayang, aku takut. Aku tidak bisa membalas semua itu. Kamu belum bisa digantikan. Aku sudah berusaha, tapi setiap aku berusaha aku slalu gagal. Kamu masih memenuhi smua ruang di hatiku. Aku tau cinta memang butuh waktu dan waktu yang dibutuhkan cinta adalah teka-teki yang sulit diprediksi. Tapi untuk saat ini aku masih memilih kamu sayang.

"Maafkanlah diriku tak bisa bersamamu,
Walau besar dan tulusnya rasa cintamu,
Takkan mungkinku tuk membagi cinta tulusmu,
Dan aku memilih setia,
Inilah akhirnya harusku akhiri,
Sebelum cintamu semakin dalam"

     Kayaknya lyric fatin itu cocok buat saat ini. Iya, dia orang baik sayang, aku belum pernah bertemu orang sesabar dan seikhlas dia. Ingin rasanya belajar seikhlas dia, agar aku juga bisa ikhlas melepas kamu, masa lalu kita, kenangan kita, smua tentang kita. Bukannya aku tidak mau membuka hati tapi aku hanya tidak ingin menyakiti, karna aku tau rasa sakit itu seperti apa. Menahan rasa itu bener-bener gak enak. Aku takut mencoba-coba untuk menjalani sebuah hubungan baru, karna pada dasarnya kamu memang masih menjadi tokoh utama dari setiap inci cerita kehidupanku. Dia slalu menganggapku wanita yang istimewa. Dia salah sayang. Sayang, aku merasa tidak pantas mendapatkan smua ini darinya, orang yang masih memendam hingga jadi demdam, yang masih membiarkan masalalu tetap tinggal di dalam dirinya. Yang masih berharap masalalu akan kembali menghampirinya, walau dia tau itu tidak akan mugkin terjadi.
   Sayang, dia memang tidak memaksa, tapi aku tidak mau melukai. Walaupun dia bilang tidak apa-apa tapi aku tau, aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. Sayang, MAAF mungkin kalau seandainya aku bertemu dia sebelum bertemu kamu mungkin aku akan memilih dia. Tapi kamu terlanjur ada dalam hidupku. Dan aku sulit untuk melupakan orang yang pernah hadir dan mengukir cerita dalam hidupku.
     Oya sayang, satu lagi tentang dia yang belum aku beri tahu. Dia diam-diam mencuri perhatian aku sperti kamu dulu. Dia menambah koleksi doraemon kesukaan aku. Tadi sore dia ngasih bingkisan dan menyelipkan sebuah kertas didalamnya. Aku sudah berusaha untuk tidak menerimanya,tapi dia memaksa sebagai tanda perkenalan katanya.
     Sayang, sekarang koleksi doraemon aku udah nambah 3, 2 buah dari dia, mug cantik sma tempat pensil skalian ada clengan kecil nya, lucu sih :D dan satu lagi boneka kepala doraemon dari seseorang yang mungkin kamu mengenal dia. Tapi tenang sayang, hal itu tidak menyingkirkan tempat doraemon kamu. Aku masih menjaganya, seperti aku menjaga perasaan ini.

    Sayang, aku tau rasa sakit menahan rasa. Aku tidak ingin orang lain merasakan apa yang pernah aku rasa. Sayang kuatkan aku yaa, aku percaya Tuhan slalu kasih yang terbaik untuk hamba-Nya. Dan  aku juga percaya cara Tuhan pasti lebih indah, Dia bekerja tanpa kita ketahui :)

Rabu, 14 Agustus 2013

Mati Rasa



     Hujan rintik membasuh jalan setapak, kabut abu membentangi matahari yang menjulang semilir angin sayup-sayup dihelai keheningan. Teringat akan waktu yang menghadang kehampaan, aku mati rasa. Hanya akal kosong yang tersisa setelah kepergianmu, merenggut kebahagiaan yang lalu. Tanpa penyesalan, kamu abaikan hati yang tulus mencintaimu dan berlari pergi menjauh.
   Setelah sekian lama aku mencari apa maksud setiap kejadian yang terjadi dalam hidupku, kini aku pasrah, pasrah dengan semua yang terjadi, pergi dan singgah adalah hal lumrah, memendam hingga jadi dendam tapi tak tau apa permasalahan kini biasa saja. Aku tak peduli lagi apa itu namanya sakit dan cinta. Aku sudah tak mengenalnya, aku sudah melupakannya, lebih tepatnya aku tidak ingin ada lagi sentuhan yang nyatanya membunuh perlahan. Aku tak tau pasti mungkinkah ini jalan terbaik atau hanya singgah sana hinggaku menemukan sebuah jalan yang baik untuk mengakhiri semua luka yang membuatku makin terjerembab dalam kekosongan hati.
Mungkin kamu berfikir aku akan baik-baik saja tanpamu. Yaah benar, aku baik-baik saja, tapi apakah kamu pernah bertanya kalau keadaan hatiku baik? Mungkin kamu tidak tau, sibuk dengan dunia antah berantah yang kamu sebut hidup sebenarnya. Sibuk mencari-cari yang lebih baik padahal kamu pernah mempunyai yang terbaik. Aku ingin kembali pada masa aku sendiri tak ada siapapun, hanya hati yang sepi dan rapuh. Jika aku tau apa yang akan terjadi setelah kita bertemu, mungkin aku tdak akan pernah memilihmu untuk menjadi orang yang paling kucintai. Kamu tau kenapa aku berkata begitu? Karena rasanya takdir begitu tidak adil, mempertemukanku denganmu lalu dengan sengaja merebut kebahagiaan yang sebenarnya belum pernah kugenggam. Mungkin kamu tau, tapi kamu tak pernah mau mengerti.
    Jika bisa kuputar lagi waktu yang habis untuk mencintaimu, aku akan memilih untuk menjadi seorang idiot yang menutup mata pada kesempatan yang terbaik, untuk tidak memilihmu, untuk tidak mencintaimu. Banyak waktu yang kuhabiskan untuk meratap. Mengenang masa-masa indah kita saat kamu begitu sangat menyayangiku. Tidak pernah sedetikpun aku melupakannya. Tidak pernah. Pertama kali kita bertemu sebagai dua pasang makhluk kikuk hingga jalan indah itu terbuka, kita bertemu lalu kita melukis kisah bersama. Indah. Kebersamaan yang dulu sejenak pernah kurasa, menenangkan dimana genggaman tanganmu membuatku merasa aman. Aku yang merindu ucapan selamat pagi, selamat tidur, mengingatkan makan hingga mengingatkan berdoa untuk jalan kita :’( sungguh tak pernah ada yang bisa menggantikannya. Senyuman hangatmu yang rela menungguku di depan kos yang selalu tidak bisa ontime kalau kita mau pergi, setia mengantarku kemana saja, sebutan pacarku sayang yang dulu kerap kali membangun semangatku dipagi hari yang terasa datar. Aku menyukainya, semua hal kecil yang kamu lakukan aku sangat menyukainya. Aku jatuh cinta pada semua yang kamu lakukan. Aku jatuh cinta pada ketulusanmu.
     Aku pernah berfikir ini akan terjadi, kita dipisahkan. Tapi kamu selalu menghiburku untuk tetap percaya pada sebuah pengharapan. Kamu selalu merangkulku dalam kebimbangan akan rasa takut yang mendalam akan kehilanganmu. Ketakutan untuk membuka kembali hati bagi orang yang tak layak dicintai. Aku tidak ingin berakhir, hingga tiba saatnya dipaksa berakhir. Aku benci perpisahan, aku benci kehilangan. Semua kehilangan itu sakit, tidak ada yang tidak. Hingga kini aku mati rasa. Mati akan rasa sakit yang terus bertubi-tubi tanpa jeda yang mencabik-cabik jiwa hampa yang kian kosong. Aku benci kehilanganmu, aku benci melihatmu pergi.
     Aku baik-baik saja tanpamu disini. Bertahan dalam semua kondisi yang diiringi kisah tentangmu, tentang orang yang pernah mencintaiku dengan segenap jiwanya. Kini berakhir. Semua tentang kamu dan tentang kita berakhir. Usai.
Aku kuat, sudah kubuktikan pada semua orang bahwa aku tegar, tidak cengeng dan tidak meratapi kisahku didepan pandangan mata yang luas. Aku tegar. Lihatlah !! aku tanpamu disini berdiri sendiri, bersedih sendiri, mencaci sendiri hingga akhirnya aku harus rela mati merindu. Hidupku hanya bermodalkan pengharapan dan cintaku padamu, jika ada hal lain tidak akan pernah sebanding dan sebesar rasaku padamu.
     Kini waktu berganti hari, hari berganti minggu. Kamu tak lagi bersamaku. Kita sudah usai. Semua yang kita lalui cukup tersimpan direlung hati yang tetap suci. Kamu pergi menjalin hidup baru tanpaku. Tidak ada komunikasi, jabat tangan, atau candaan yang aku rindukan. Kini murni sendiri ditemani kisah masa lalu yang tetap kejam menghantui. Aku ingin melupakanmu dan kisah kita, namun yang terjadi aku semakin mencintaimu dan kisah kejam itu. Aku semakin mencintaimu di kondisi yang menyedihkan ini. Aku harap kamu tau, jika aku merindukanmu yang kulakukan adalah memejamkan mataku hingga aku bisa merasakan dirimu ada disampingku sedang tersenyum. Memang itu hayalan tapi sedikit mengobati rasa sakit merindukanmu. Kita memang terpisah tetapi mengapa aku masih bisa merasakan ikatan batin diantara kita? Apa kamu juga merasakan?
      Aku tau kamu juga merindukanku, tapi kamu tidak kalah pintar membodohi orang dengan menutupi kesedihanmu. Kamu hebat. Menyimpan rasa sakit kehilangan orang tanpa merenung dan mengiba. Tapi kamu tetap lemah karena hatimu hanya sekeping yang rapuh. Kamu jngan khawatir dengan teman-temanku, kini temanku bertambah yang pertama namanya sedih, kedua namanya air mata, dan ketiga namanya merindukanmu. Kamu jangan panik jika aku menangis tanpa sebab. Karena kini yang kutangisi tidak pernah hal lain selain kamu. Kamu tidak perlu menyapaku setiap pagi dengan kecupanmu di text message karena kini aku selalu mengirimkannya untukmu yang masih melekat dijiwaku. Kamu jangan pernah bersedih, karena sedih itu adalah teman yang akan menjadi sahabat sejatiku. Aku merindukanmu, tapi aku tidak akan pernah merasakan sepi, karena setiap saat aku merasakan sedih air mata dan rindu. Aku tidak pernah kehilangan mereka. Biarkan aku berteman dengan mereka. Biarkan aku menikmati luka yang nikmat ini.
     Disini aku slalu bertanya-tanya, ingatkah alasanmu mencintaiku? Disaat kamu terpuruk dan mendekapku untuk bersamamu. Kapan aku terakhir kalinya melihatmu? Atau sudahkah kamu menghapusku dari ingatanmu? Aku tak kan pernah berharap mencintai yang lain, hanya untuk meyakinkan bahwa aku pantas tuk dicinta. Namun ku ikhlaskan untuk kebahagiaanmu, ku lepas kamu bernafas luas, ku berikan kamu jarak yang bebas, tapi bolehkah aku untuk berharap? Semoga suatu saat kamu temukan bagian hatimu yang hilang untuk membawamu kembali padaku. Untuk cintaku yang sesaat pergi dan berharap kembali :'(

Selasa, 16 Juli 2013

Empat Minggu Masih Tetap Sama



Ku buka handphone-ku, tak ada lagi kamu yang slalu memenuhi inbox-ku, tak ada lagi ucapan slamat pagi dan slamat tidur untukku. Tak ada lagi canda tawamu yang slalu mengiringiku dalam kebahagiaan, tak ada lagi leluconmu bahkan gombalanmu yang membuatku slalu tertawa. Tak ada lagi tatapan yang membuat jantungku berdebar. Tak ada lagi genggaman tangan mu yang slalu membuatku kuat akan setiap masalah yang menghampiriku dan membuatku merasa aman. Kini ada sesuatu yang hilang, tak lagi sama seperti dulu. Tidak terasa sudah empat minggu kepergianmu.
Empat minggu harusnya waktu yang cukup untuk bisa sedikit demi sedikit menghilangkan perasaan. Tapi lain halnya dengan apa yang aku alami. Empat minggu tidak mampu menghapus sedikitpun kenangan dari kita. Semuanya masih utuh, tak hilang barang sedetikpun dalam fikiranku, ingatan ku masih tajam untuk mengenang kita yang dulu pernah ada. Hari berganti minggu, kamu masih tetap berdiam didalam fikiran ini, masih menjadi penunggu didalam hati ini, menguji imanku dan menyergap semua perhatian. Kamu masih menjadi tokoh utama dalam setiap cerita-cerita kehidupanku. Kita yang slalu tertawa bersama dalam setiap candaan, dalam setiap pesan singkat, dalam setiap sambungan telepon, maupun dalam setiap tatap mata. Saat itu kamu yang begitu keras meyakinkan aku sehingga membuat aku percaya bahwa kamu tidak seperti pria lainnya, kamu yang merubah persepsiku bahwa cinta tidak memandang status. Hadirmu membuatku percaya bahwa kita sedang menuju ambang bahagia, aku dan kamu sedang dalam perjalanan menuju ujung pencarian kita. Tapi aku yang slalu kamu yakini, ternyata bisa juga salah. Aku salah mengartikan smuanya. Kukira segala ungkapan dan ucapanmu adalah hal mutlak yang bisa aku pegang. Ternyata semua hanya omong kosong belaka. Yang kukira perasaanmu nyata, ternyata hanya rasa yang pura-pura kau seriusi. Kau butakan mata dan tulikan telinga, hingga aku tak bisa membedakan mana cinta dan mana dusta. Aku tak tahu apakah rasa sayang yang slama ini kau bisikan dalam telingaku, hanyalah bualan yang kau pikir bisa dijadikan bahan candaan? Kamu pernah berjanji, ketika aku menceritakan pengalamanku, ketika aku tidak akan pernah lagi mempercayai ucapan pria. Tapi kamu malah meyakinkan aku “bg tau kok, gak mudah bikin ayang percaya, sangat-sangat gak mudah, tapi bg usahain gak bakal bikin pengalaman buruk yang baru bagi ayang, bg janji”. Kalau aku diizinkan mengungkit segalanya, lalu mengapa kau pergi disaat aku mulai percaya dengan cinta yang kau yakini.
Setelah kepergianmu, aku tak tahu lagi kabarmu, bahkan kamu juga tidak ingin tahu kabarku,  dan bahkan untuk sedikit saja menyapaku kamu tidak mau. Rasanya inginku katakan berkali-kali bukan ini yang aku mau. Kembali, melupakan dan merelakan merupakan dua hal yang tidak bisa aku pisahkan. Aku slalu mengingatmu, meskiku tahu itu menyakitkan. Teman-temanku sering bilang “udah lah dek jangan fikirin orang kayak gitu lagi, jahat dia udah bikin kamu kayak gini, adek bisa dapetin orang yang lebih dari dia”. Mereka juga bilang bahwa harusnya aku tak mempertahankanmu sedalam ini, harusnya aku tidak perlu mempercayaimu sedalam itu. Tapi mengapa perasaan ini tetap ada padamu? Mengapa perasaan ini hanya ingin meyakinimu? Aku terlalu buta untuk memahami semua ini. Dan telingaku terlalu tuli untuk mendengarkan sekelilingku. Walau kata-kata itu terlihat kasar tapi bagiku itu masih terlihat lembut. Aku tetap mencintaimu bahkan dalam kesakitanku. Kamu yang telah pergi, terimakasih untuk setiap harapan yang kau hempaskan, setiap janji manis yag slalu meyakinkanku untuk mempercayaimu. Aku mengerti seharusnya dari awal ketika kau datang, aku tak perlu menggubrismu sehingga aku tak terluka separah ini.
            Aku berharap hari-hariku bisa berjalan dengan mulus seperti biasanya. Walau tak ada kamu disampingku. Kini aku mencoba menjalani aktivitasku seperti biasa, tanpa ada dirimu yang menemaniku setiap harinya. Aku harus tetap tegar dengan semua ini. Setelah kepergianmu aku menyadari betapa aku mencintaimu, setelah kepargianmu, kamu merampas semua cinta dan kebahagiaan yang ku punya, melarikan ketempat asing yang justru tak tahu dimana keberadaannya. Siksaanmu begitu besar untukku dan aku terlalu lemah untuk mendapatkan cobaan ini, aku begitu lemah untuk mendapatkan goresan luka dalam benakku yang semakin hari semakin bertambah. Aku marah pada diriku sendiri, mengapa aku begitu sulit untuk melupakanmu? Sedangkan kamu disana dengan mudahnya melupakanku. Tuhan, ini sungguh tidak adil bagiku. Ingin rasanya aku hilang ingatan, agar aku tak mengenalmu dan kenangan dulu bisa terhapus didalam memory otakku. Mungkin itulah jalan satu-satunya untuk saat ini.
Hari berganti hari, dan minggu berganti minggu aku terus menjalani hidupku tanpa dirimu. Dan setiap hari aku hanya slalu memikirkan apakah kamu disana slalu memikirkanku? Seperti aku yang slalu memikirkanmu. Aku hanya ingin tahu isi hatimu saat ini. Apa kamu tak pernah berfikir tentang isi hatiku saat ini? Yang semakin hari semakin mendung karena tak ada lagi yang menyinari hatiku.
            Di dalam mimpiku kamu slalu ada untukku dan kamu milikku. Tapi ternyata, di dalam kehidupan nyata, kamu hanyalah mimpi untukku dan aku sulit menggapaimu kembali. Tak ada hal yang mampu aku perjuangkan selain membiarkanmu pergi dan merelakanmu. Jujur, aku menunggu saaat-saat aku dan kamu bisa melebur menjadi satu kembali. Saat kamu dan aku melupakan perbedaan kita, saat aku tak peduli apa profesimu dan kamu tak peduli profesiku, saat aku tak peduli dengan harta dan masalah duniawi lainnya. Dan kuterima kau dalam keadaan terburukmu. Aku sudah berada dalam titik itu, tapi kau terus diam tak ingin aku ajak berjalan dan melangkah terlalu jauh. Diantara rasa lelah menunggu ini, dan diantara kesabaran merindu ternyata aku masih berani memasukkanmu didalam setiap doaku. Aku berusaha menikmati kesedihanku, kesakitanku hingga aku terbiasa akan semua hal itu. Aku punya Tuhan, keluarga, dan sahabat.  Aku percaya pada Tuhan, Tuhan pasti sedang menguji kesabaranku saat ini, dan pasti ada jalan keluar dibalik ini semua. Mungkin dimataku kamu yang terbaik untukku, tapi belum tentu kata Tuhan kamu yang terbaik untukku. Aku percaya dan yakin bahwa skenario Tuhan adalah yag paling indah.
            Sudahlah, aku hanya ingin memberitahu empat minggu setelah perpisahan kita, tak banyak hal yang berubah. Langitku masih mendung, lukaku masih merah, hatiku masih lebam, ingatanku masih keram. Kamu yang kukenal baik, lugu, rendah hati dan tidak banyak tingkah, kini sudah berubah. Tiba-tiba berubah menjadi sadis. Kamu berganti-ganti wajah, membiarkanku kebingungan ditengah keramaian untuk membedakan dirimu yang begitu abu-abu. Dan disini aku masih sibuk untuk menyembuhkan lukaku, yang tetap mencintaimu meski dalam kesakitanku. Masih berjuang melawan hati yang tak ingin terpisah !