Kamis, 12 Desember 2013

2 kategori dan 3 kategori


2 kategori dan 3 kategori


Umur Ibu (Atas-Bawah Mean)
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
Dibawah Mean
1814
55,3
55,3
55,3
Diatas Mean
1465
44,7
44,7
100,0
Total
3279
100,0
100,0
Umur Ibu Berdasar Kurva Normal
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
Kurang
321
9,8
9,8
9,8
Antara
2228
67,9
67,9
77,7
Lebih
730
22,3
22,3
100,0
Total
3279
100,0
100,0
TB Ibu (Kurang Lebih Mean)
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
Kurang dari mean
2042
62,3
62,3
62,3
Lebih dari mean
1237
37,7
37,7
100,0
Total
3279
100,0
100,0
TB Ibu (Berdasarkan Kurva Normal)
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
Kurang
425
13,0
13,0
13,0
Antara
2181
66,5
66,5
79,5
Lebih
673
20,5
20,5
100,0
Total
3279
100,0
100,0
BB Ibu(Atas Bawah mean)
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
Dibawah mean
1865
56,9
56,9
56,9
Diatas mean
1414
43,1
43,1
100,0
Total
3279
100,0
100,0
BB Ibu(Berdasarkan Kurva Normal)
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
Kurang
474
14,5
14,5
14,5
Antara
2169
66,1
66,1
80,6
Lebih
636
19,4
19,4
100,0
Total
3279
100,0
100,0

Selasa, 20 Agustus 2013

Memilih Setia

    Sayang, MAAF untuk kali ini aku tidak menulis cerita tentangmu, tapi mungkin malah aku akan meminta kamu untuk mendengarkan ceritaku. Sayang, bukan aku tidak ingat, dan aku tidak bermaksud melupakanmu tapi mungkin ini sedikit dari cerita tentang kehidupanku setelah kepergianmu. Kini, datang dan pergi hadir dalam hidupku. Mereka banyak, sampai aku ketakutan. Takut akan rasa yang slalu aku jaga untukmu berubah. Ya, akhir-akhir ini aku punya banyak teman. Ada yang datang dan pergi lalu ada yang masih bertahan.
      Sayang, sedikit aku ceritakan tentang pria itu, dia berbeda denganmu sedikit lebay tapi aku tau dan bisa merasakan kalau dia orang baik sayang. Dia sering mengucapkan slamat pagi, mengingatkan makan, minum obat, slamat tidur, slamat malam, menyemangatiku bahkan ikut mendoakan yang terbaik untuk hidupku dan slalu ingin membuatku tersenyum yang seharusnya smua itu kamu yang lakukan padaku. Dia seperti berusaha menggantikan posisimu. Sayang, aku takut. Aku tidak bisa membalas semua itu. Kamu belum bisa digantikan. Aku sudah berusaha, tapi setiap aku berusaha aku slalu gagal. Kamu masih memenuhi smua ruang di hatiku. Aku tau cinta memang butuh waktu dan waktu yang dibutuhkan cinta adalah teka-teki yang sulit diprediksi. Tapi untuk saat ini aku masih memilih kamu sayang.

"Maafkanlah diriku tak bisa bersamamu,
Walau besar dan tulusnya rasa cintamu,
Takkan mungkinku tuk membagi cinta tulusmu,
Dan aku memilih setia,
Inilah akhirnya harusku akhiri,
Sebelum cintamu semakin dalam"

     Kayaknya lyric fatin itu cocok buat saat ini. Iya, dia orang baik sayang, aku belum pernah bertemu orang sesabar dan seikhlas dia. Ingin rasanya belajar seikhlas dia, agar aku juga bisa ikhlas melepas kamu, masa lalu kita, kenangan kita, smua tentang kita. Bukannya aku tidak mau membuka hati tapi aku hanya tidak ingin menyakiti, karna aku tau rasa sakit itu seperti apa. Menahan rasa itu bener-bener gak enak. Aku takut mencoba-coba untuk menjalani sebuah hubungan baru, karna pada dasarnya kamu memang masih menjadi tokoh utama dari setiap inci cerita kehidupanku. Dia slalu menganggapku wanita yang istimewa. Dia salah sayang. Sayang, aku merasa tidak pantas mendapatkan smua ini darinya, orang yang masih memendam hingga jadi demdam, yang masih membiarkan masalalu tetap tinggal di dalam dirinya. Yang masih berharap masalalu akan kembali menghampirinya, walau dia tau itu tidak akan mugkin terjadi.
   Sayang, dia memang tidak memaksa, tapi aku tidak mau melukai. Walaupun dia bilang tidak apa-apa tapi aku tau, aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. Sayang, MAAF mungkin kalau seandainya aku bertemu dia sebelum bertemu kamu mungkin aku akan memilih dia. Tapi kamu terlanjur ada dalam hidupku. Dan aku sulit untuk melupakan orang yang pernah hadir dan mengukir cerita dalam hidupku.
     Oya sayang, satu lagi tentang dia yang belum aku beri tahu. Dia diam-diam mencuri perhatian aku sperti kamu dulu. Dia menambah koleksi doraemon kesukaan aku. Tadi sore dia ngasih bingkisan dan menyelipkan sebuah kertas didalamnya. Aku sudah berusaha untuk tidak menerimanya,tapi dia memaksa sebagai tanda perkenalan katanya.
     Sayang, sekarang koleksi doraemon aku udah nambah 3, 2 buah dari dia, mug cantik sma tempat pensil skalian ada clengan kecil nya, lucu sih :D dan satu lagi boneka kepala doraemon dari seseorang yang mungkin kamu mengenal dia. Tapi tenang sayang, hal itu tidak menyingkirkan tempat doraemon kamu. Aku masih menjaganya, seperti aku menjaga perasaan ini.

    Sayang, aku tau rasa sakit menahan rasa. Aku tidak ingin orang lain merasakan apa yang pernah aku rasa. Sayang kuatkan aku yaa, aku percaya Tuhan slalu kasih yang terbaik untuk hamba-Nya. Dan  aku juga percaya cara Tuhan pasti lebih indah, Dia bekerja tanpa kita ketahui :)

Rabu, 14 Agustus 2013

Mati Rasa



     Hujan rintik membasuh jalan setapak, kabut abu membentangi matahari yang menjulang semilir angin sayup-sayup dihelai keheningan. Teringat akan waktu yang menghadang kehampaan, aku mati rasa. Hanya akal kosong yang tersisa setelah kepergianmu, merenggut kebahagiaan yang lalu. Tanpa penyesalan, kamu abaikan hati yang tulus mencintaimu dan berlari pergi menjauh.
   Setelah sekian lama aku mencari apa maksud setiap kejadian yang terjadi dalam hidupku, kini aku pasrah, pasrah dengan semua yang terjadi, pergi dan singgah adalah hal lumrah, memendam hingga jadi dendam tapi tak tau apa permasalahan kini biasa saja. Aku tak peduli lagi apa itu namanya sakit dan cinta. Aku sudah tak mengenalnya, aku sudah melupakannya, lebih tepatnya aku tidak ingin ada lagi sentuhan yang nyatanya membunuh perlahan. Aku tak tau pasti mungkinkah ini jalan terbaik atau hanya singgah sana hinggaku menemukan sebuah jalan yang baik untuk mengakhiri semua luka yang membuatku makin terjerembab dalam kekosongan hati.
Mungkin kamu berfikir aku akan baik-baik saja tanpamu. Yaah benar, aku baik-baik saja, tapi apakah kamu pernah bertanya kalau keadaan hatiku baik? Mungkin kamu tidak tau, sibuk dengan dunia antah berantah yang kamu sebut hidup sebenarnya. Sibuk mencari-cari yang lebih baik padahal kamu pernah mempunyai yang terbaik. Aku ingin kembali pada masa aku sendiri tak ada siapapun, hanya hati yang sepi dan rapuh. Jika aku tau apa yang akan terjadi setelah kita bertemu, mungkin aku tdak akan pernah memilihmu untuk menjadi orang yang paling kucintai. Kamu tau kenapa aku berkata begitu? Karena rasanya takdir begitu tidak adil, mempertemukanku denganmu lalu dengan sengaja merebut kebahagiaan yang sebenarnya belum pernah kugenggam. Mungkin kamu tau, tapi kamu tak pernah mau mengerti.
    Jika bisa kuputar lagi waktu yang habis untuk mencintaimu, aku akan memilih untuk menjadi seorang idiot yang menutup mata pada kesempatan yang terbaik, untuk tidak memilihmu, untuk tidak mencintaimu. Banyak waktu yang kuhabiskan untuk meratap. Mengenang masa-masa indah kita saat kamu begitu sangat menyayangiku. Tidak pernah sedetikpun aku melupakannya. Tidak pernah. Pertama kali kita bertemu sebagai dua pasang makhluk kikuk hingga jalan indah itu terbuka, kita bertemu lalu kita melukis kisah bersama. Indah. Kebersamaan yang dulu sejenak pernah kurasa, menenangkan dimana genggaman tanganmu membuatku merasa aman. Aku yang merindu ucapan selamat pagi, selamat tidur, mengingatkan makan hingga mengingatkan berdoa untuk jalan kita :’( sungguh tak pernah ada yang bisa menggantikannya. Senyuman hangatmu yang rela menungguku di depan kos yang selalu tidak bisa ontime kalau kita mau pergi, setia mengantarku kemana saja, sebutan pacarku sayang yang dulu kerap kali membangun semangatku dipagi hari yang terasa datar. Aku menyukainya, semua hal kecil yang kamu lakukan aku sangat menyukainya. Aku jatuh cinta pada semua yang kamu lakukan. Aku jatuh cinta pada ketulusanmu.
     Aku pernah berfikir ini akan terjadi, kita dipisahkan. Tapi kamu selalu menghiburku untuk tetap percaya pada sebuah pengharapan. Kamu selalu merangkulku dalam kebimbangan akan rasa takut yang mendalam akan kehilanganmu. Ketakutan untuk membuka kembali hati bagi orang yang tak layak dicintai. Aku tidak ingin berakhir, hingga tiba saatnya dipaksa berakhir. Aku benci perpisahan, aku benci kehilangan. Semua kehilangan itu sakit, tidak ada yang tidak. Hingga kini aku mati rasa. Mati akan rasa sakit yang terus bertubi-tubi tanpa jeda yang mencabik-cabik jiwa hampa yang kian kosong. Aku benci kehilanganmu, aku benci melihatmu pergi.
     Aku baik-baik saja tanpamu disini. Bertahan dalam semua kondisi yang diiringi kisah tentangmu, tentang orang yang pernah mencintaiku dengan segenap jiwanya. Kini berakhir. Semua tentang kamu dan tentang kita berakhir. Usai.
Aku kuat, sudah kubuktikan pada semua orang bahwa aku tegar, tidak cengeng dan tidak meratapi kisahku didepan pandangan mata yang luas. Aku tegar. Lihatlah !! aku tanpamu disini berdiri sendiri, bersedih sendiri, mencaci sendiri hingga akhirnya aku harus rela mati merindu. Hidupku hanya bermodalkan pengharapan dan cintaku padamu, jika ada hal lain tidak akan pernah sebanding dan sebesar rasaku padamu.
     Kini waktu berganti hari, hari berganti minggu. Kamu tak lagi bersamaku. Kita sudah usai. Semua yang kita lalui cukup tersimpan direlung hati yang tetap suci. Kamu pergi menjalin hidup baru tanpaku. Tidak ada komunikasi, jabat tangan, atau candaan yang aku rindukan. Kini murni sendiri ditemani kisah masa lalu yang tetap kejam menghantui. Aku ingin melupakanmu dan kisah kita, namun yang terjadi aku semakin mencintaimu dan kisah kejam itu. Aku semakin mencintaimu di kondisi yang menyedihkan ini. Aku harap kamu tau, jika aku merindukanmu yang kulakukan adalah memejamkan mataku hingga aku bisa merasakan dirimu ada disampingku sedang tersenyum. Memang itu hayalan tapi sedikit mengobati rasa sakit merindukanmu. Kita memang terpisah tetapi mengapa aku masih bisa merasakan ikatan batin diantara kita? Apa kamu juga merasakan?
      Aku tau kamu juga merindukanku, tapi kamu tidak kalah pintar membodohi orang dengan menutupi kesedihanmu. Kamu hebat. Menyimpan rasa sakit kehilangan orang tanpa merenung dan mengiba. Tapi kamu tetap lemah karena hatimu hanya sekeping yang rapuh. Kamu jngan khawatir dengan teman-temanku, kini temanku bertambah yang pertama namanya sedih, kedua namanya air mata, dan ketiga namanya merindukanmu. Kamu jangan panik jika aku menangis tanpa sebab. Karena kini yang kutangisi tidak pernah hal lain selain kamu. Kamu tidak perlu menyapaku setiap pagi dengan kecupanmu di text message karena kini aku selalu mengirimkannya untukmu yang masih melekat dijiwaku. Kamu jangan pernah bersedih, karena sedih itu adalah teman yang akan menjadi sahabat sejatiku. Aku merindukanmu, tapi aku tidak akan pernah merasakan sepi, karena setiap saat aku merasakan sedih air mata dan rindu. Aku tidak pernah kehilangan mereka. Biarkan aku berteman dengan mereka. Biarkan aku menikmati luka yang nikmat ini.
     Disini aku slalu bertanya-tanya, ingatkah alasanmu mencintaiku? Disaat kamu terpuruk dan mendekapku untuk bersamamu. Kapan aku terakhir kalinya melihatmu? Atau sudahkah kamu menghapusku dari ingatanmu? Aku tak kan pernah berharap mencintai yang lain, hanya untuk meyakinkan bahwa aku pantas tuk dicinta. Namun ku ikhlaskan untuk kebahagiaanmu, ku lepas kamu bernafas luas, ku berikan kamu jarak yang bebas, tapi bolehkah aku untuk berharap? Semoga suatu saat kamu temukan bagian hatimu yang hilang untuk membawamu kembali padaku. Untuk cintaku yang sesaat pergi dan berharap kembali :'(

Selasa, 16 Juli 2013

Empat Minggu Masih Tetap Sama



Ku buka handphone-ku, tak ada lagi kamu yang slalu memenuhi inbox-ku, tak ada lagi ucapan slamat pagi dan slamat tidur untukku. Tak ada lagi canda tawamu yang slalu mengiringiku dalam kebahagiaan, tak ada lagi leluconmu bahkan gombalanmu yang membuatku slalu tertawa. Tak ada lagi tatapan yang membuat jantungku berdebar. Tak ada lagi genggaman tangan mu yang slalu membuatku kuat akan setiap masalah yang menghampiriku dan membuatku merasa aman. Kini ada sesuatu yang hilang, tak lagi sama seperti dulu. Tidak terasa sudah empat minggu kepergianmu.
Empat minggu harusnya waktu yang cukup untuk bisa sedikit demi sedikit menghilangkan perasaan. Tapi lain halnya dengan apa yang aku alami. Empat minggu tidak mampu menghapus sedikitpun kenangan dari kita. Semuanya masih utuh, tak hilang barang sedetikpun dalam fikiranku, ingatan ku masih tajam untuk mengenang kita yang dulu pernah ada. Hari berganti minggu, kamu masih tetap berdiam didalam fikiran ini, masih menjadi penunggu didalam hati ini, menguji imanku dan menyergap semua perhatian. Kamu masih menjadi tokoh utama dalam setiap cerita-cerita kehidupanku. Kita yang slalu tertawa bersama dalam setiap candaan, dalam setiap pesan singkat, dalam setiap sambungan telepon, maupun dalam setiap tatap mata. Saat itu kamu yang begitu keras meyakinkan aku sehingga membuat aku percaya bahwa kamu tidak seperti pria lainnya, kamu yang merubah persepsiku bahwa cinta tidak memandang status. Hadirmu membuatku percaya bahwa kita sedang menuju ambang bahagia, aku dan kamu sedang dalam perjalanan menuju ujung pencarian kita. Tapi aku yang slalu kamu yakini, ternyata bisa juga salah. Aku salah mengartikan smuanya. Kukira segala ungkapan dan ucapanmu adalah hal mutlak yang bisa aku pegang. Ternyata semua hanya omong kosong belaka. Yang kukira perasaanmu nyata, ternyata hanya rasa yang pura-pura kau seriusi. Kau butakan mata dan tulikan telinga, hingga aku tak bisa membedakan mana cinta dan mana dusta. Aku tak tahu apakah rasa sayang yang slama ini kau bisikan dalam telingaku, hanyalah bualan yang kau pikir bisa dijadikan bahan candaan? Kamu pernah berjanji, ketika aku menceritakan pengalamanku, ketika aku tidak akan pernah lagi mempercayai ucapan pria. Tapi kamu malah meyakinkan aku “bg tau kok, gak mudah bikin ayang percaya, sangat-sangat gak mudah, tapi bg usahain gak bakal bikin pengalaman buruk yang baru bagi ayang, bg janji”. Kalau aku diizinkan mengungkit segalanya, lalu mengapa kau pergi disaat aku mulai percaya dengan cinta yang kau yakini.
Setelah kepergianmu, aku tak tahu lagi kabarmu, bahkan kamu juga tidak ingin tahu kabarku,  dan bahkan untuk sedikit saja menyapaku kamu tidak mau. Rasanya inginku katakan berkali-kali bukan ini yang aku mau. Kembali, melupakan dan merelakan merupakan dua hal yang tidak bisa aku pisahkan. Aku slalu mengingatmu, meskiku tahu itu menyakitkan. Teman-temanku sering bilang “udah lah dek jangan fikirin orang kayak gitu lagi, jahat dia udah bikin kamu kayak gini, adek bisa dapetin orang yang lebih dari dia”. Mereka juga bilang bahwa harusnya aku tak mempertahankanmu sedalam ini, harusnya aku tidak perlu mempercayaimu sedalam itu. Tapi mengapa perasaan ini tetap ada padamu? Mengapa perasaan ini hanya ingin meyakinimu? Aku terlalu buta untuk memahami semua ini. Dan telingaku terlalu tuli untuk mendengarkan sekelilingku. Walau kata-kata itu terlihat kasar tapi bagiku itu masih terlihat lembut. Aku tetap mencintaimu bahkan dalam kesakitanku. Kamu yang telah pergi, terimakasih untuk setiap harapan yang kau hempaskan, setiap janji manis yag slalu meyakinkanku untuk mempercayaimu. Aku mengerti seharusnya dari awal ketika kau datang, aku tak perlu menggubrismu sehingga aku tak terluka separah ini.
            Aku berharap hari-hariku bisa berjalan dengan mulus seperti biasanya. Walau tak ada kamu disampingku. Kini aku mencoba menjalani aktivitasku seperti biasa, tanpa ada dirimu yang menemaniku setiap harinya. Aku harus tetap tegar dengan semua ini. Setelah kepergianmu aku menyadari betapa aku mencintaimu, setelah kepargianmu, kamu merampas semua cinta dan kebahagiaan yang ku punya, melarikan ketempat asing yang justru tak tahu dimana keberadaannya. Siksaanmu begitu besar untukku dan aku terlalu lemah untuk mendapatkan cobaan ini, aku begitu lemah untuk mendapatkan goresan luka dalam benakku yang semakin hari semakin bertambah. Aku marah pada diriku sendiri, mengapa aku begitu sulit untuk melupakanmu? Sedangkan kamu disana dengan mudahnya melupakanku. Tuhan, ini sungguh tidak adil bagiku. Ingin rasanya aku hilang ingatan, agar aku tak mengenalmu dan kenangan dulu bisa terhapus didalam memory otakku. Mungkin itulah jalan satu-satunya untuk saat ini.
Hari berganti hari, dan minggu berganti minggu aku terus menjalani hidupku tanpa dirimu. Dan setiap hari aku hanya slalu memikirkan apakah kamu disana slalu memikirkanku? Seperti aku yang slalu memikirkanmu. Aku hanya ingin tahu isi hatimu saat ini. Apa kamu tak pernah berfikir tentang isi hatiku saat ini? Yang semakin hari semakin mendung karena tak ada lagi yang menyinari hatiku.
            Di dalam mimpiku kamu slalu ada untukku dan kamu milikku. Tapi ternyata, di dalam kehidupan nyata, kamu hanyalah mimpi untukku dan aku sulit menggapaimu kembali. Tak ada hal yang mampu aku perjuangkan selain membiarkanmu pergi dan merelakanmu. Jujur, aku menunggu saaat-saat aku dan kamu bisa melebur menjadi satu kembali. Saat kamu dan aku melupakan perbedaan kita, saat aku tak peduli apa profesimu dan kamu tak peduli profesiku, saat aku tak peduli dengan harta dan masalah duniawi lainnya. Dan kuterima kau dalam keadaan terburukmu. Aku sudah berada dalam titik itu, tapi kau terus diam tak ingin aku ajak berjalan dan melangkah terlalu jauh. Diantara rasa lelah menunggu ini, dan diantara kesabaran merindu ternyata aku masih berani memasukkanmu didalam setiap doaku. Aku berusaha menikmati kesedihanku, kesakitanku hingga aku terbiasa akan semua hal itu. Aku punya Tuhan, keluarga, dan sahabat.  Aku percaya pada Tuhan, Tuhan pasti sedang menguji kesabaranku saat ini, dan pasti ada jalan keluar dibalik ini semua. Mungkin dimataku kamu yang terbaik untukku, tapi belum tentu kata Tuhan kamu yang terbaik untukku. Aku percaya dan yakin bahwa skenario Tuhan adalah yag paling indah.
            Sudahlah, aku hanya ingin memberitahu empat minggu setelah perpisahan kita, tak banyak hal yang berubah. Langitku masih mendung, lukaku masih merah, hatiku masih lebam, ingatanku masih keram. Kamu yang kukenal baik, lugu, rendah hati dan tidak banyak tingkah, kini sudah berubah. Tiba-tiba berubah menjadi sadis. Kamu berganti-ganti wajah, membiarkanku kebingungan ditengah keramaian untuk membedakan dirimu yang begitu abu-abu. Dan disini aku masih sibuk untuk menyembuhkan lukaku, yang tetap mencintaimu meski dalam kesakitanku. Masih berjuang melawan hati yang tak ingin terpisah !

Selasa, 25 Juni 2013

Satu Tahun Satu Bulan Tepat di Satu Minggu Kepergianmu

   Hari berganti hari, kamu tetap menjadi sosok yang setiap detiknya menghantuiku, masih menjadi penunggu dalam fikiran dan hati ini, menguji imanku dan menyita smua perhatianku. Aku merasa perpisahan ini hanya sebuah mimpi, dimana aku masih tertidur sangat panjang, dan di dalamnya aku sebagai penonton yang sedang menyaksikan drama kisah cinta yang tak direstui oleh orangtuanya, ini bukan kenyataan, bukan kenyataan !! Tapi smua tidak sesuai dengan keinginanku. Wake up, Ini kenyataan ! Aku dan Kamu telah dijauhkan satu sama lain.
     Hari ini adalah 1 tahun 1 bulanan kita, jika kita masih tetap bersama. Tapi pada kenyataannya dihari ini tepat satu minggu kita berpisah. Hari ini teringat smuanya, satu persatu aku review kenangan kita. Mulai dari awal perkenalan kita sampai saat dimana aku harus merelakan apa yang tak harus aku relakan. Satu persatu kenangan itu menusuk-nusuk fikiranku dan mulai menghujam hati ini.
    Aku benci harus mengakui ini, satu minggu masih belum cukup waktu untuk melupakanmu, melupakan semua kenangan kita. Semakin aku berusaha, semakin kuat melekat didalam fikiranku. Aku tak menemukan titik temu untuk melupakanmu. Kamu masih menjadi tokoh utama dari setiap inci cerita kehidupanku. Masih menjadi segalanya, masih berdiam dalam kepala dan bersemayam di hati. Mungkin ini sedikit terlihat bodoh. Dan mungkin disana kamu akan berkata bahwa sikapku ini terlalu berlebihan dan bahkan mungkin kamu akan menertawakan segala kejujuranku ini. Dan kini, aku masih menangisi juga menyesali yang sempat terjadi. Mengapa semua harus berakhir sesakit ini? Kenapa bisa kamu yang slalu meyakinkan aku sekarang menyakiti aku? Apa tujuanmu menyakitiku, padahal dulu kita mulai semua dengan indah? Aku tak lagi tau kabarmu. Aku tak tau sedang berbuat apa kamu disana. Segala ketidaktauanku ini mengantarkan perasaanku pada rindu yang semakin hari semakin berontak, yang meminta pertemuan nyata. Yang memaksa dua orang yang berjauahan untuk kembali saling berdekatan. Aku masih ingin bersamamu, tetap bersamamu !
   Jika aku berada disampingmu sekarang, ingin rasanya aku mengulang segalanya. Mengulang smua cerita indah bersamamu. Ingin ku putar waktu sesukaku, agar yang hadir dalam setiap detikku hanyalah kamu, kita, dan kebahagiaan tanpa air mata. Ingin aku hentikan detak jarum jam agar kau tak bisa membuat tubuhku dingin dan menggigil saat menghadapi perpisahan, agar tak bisa merubah perasaan tentang cinta kita, mimpi, dan tak bisa menghancurkan harapan-harapan yang dulu ingin kita wujudkan berdua.
     Kembali, melupakan dan merelakan merupakan dua hal yang tidak bisa aku pisahkan. Melupakan adalah hal yang tak akan pernah mudah, begitu juga dengan merelakan yang pernah ada menjadi tidak ada merupakan kerumitan yang aku tidak ingin merasakannya. Aku lelah dihajar kenangan. Di otakku kamu tak pernah hilang, sedetik pun. Satu tahun mungkin bukan waktu yang singkat dan bukan juga waktu yang terlalu lama. Tapi dalam setahun itu begitu banyak kenangan yang kita ukir berdua, harapan-harapan yang ingin kita wujudkan berdua. Sampai sekarang, aku tidak pernah mengerti mengapa aku yang tidak mudah untuk tergoda malah dengan mudah begitu saja terjebak dalam perhatian dan perlakuanmu yang lembut, selembut ketika kamu berbisik tentang cinta. Kini kamu seperti sangat luar biasa dimataku, dulu dan sekarang masih tetap sama.
      Aku tau, aku tak punya hak untuk memintamu kembali, juga tak mempunyai wewenang untuk memintamu segera pulang tuk tetap tinggal bersama. Masih adakah yang perlu ku paksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan? Tidak munafik aku merasa kehilangan. Dulu aku terbiasa dengan candaan dan perhatian kecilmu, namun segalanya tiba-tiba hilang menguap, bagai asap rokok yang hilang ditelan malam. Ini bukan salahmu, tapi tak mungkin matamu terlalu buta dan hatimu terlalu cacat untuk tahu bahwa aku mencintaimu. Aku harus belajar tak peduli, aku harus belajar merelakan, juga melupakan. Tapi aku akui ini begitu sulit, sulit, sangat sangat sulit.
      Sekarang kita sangat jauh berbeda. Perbedaan yang berulang kali berusaha ku pahami, tapi tak kunjung ku mengerti. Bisakah kau mengajarkanku dengan mudah melewatinya? Agar aku bisa menerima, mengikhlaskan, melupakan dan bisa merelakan dengan sangat gampang. Bisakah kau membantuku untuk memudahkan segalanya? Seperti kamu yang dengan mudah berkata kepadaku “Sayang jangan terlalu sedih ya dengan smua ini, hidup masih panjang, mungkin Tuhan mempertemukan kita bukan untuk saling memiliki”. Kamu yang dengan mudah berkata seperti itu. Membuat aku berfikir, benarkah smua bisikan cinta yang dulu kamu bisikan dengan lembut dan smua kata-katamu yang slalu meyakinkanku untuk mempercayai perkataanmu itu hanyalah bualanmu semata? Mengapa aku terlalu bodoh untuk membaca hal itu tidak dari awal? Mengapa mataku terlanjur buta dan telingaku menjadi tuli? Jadi yang kulihat dan kudengar selama ini hanya bisikan harapan yang sebenarnya sungguh tak akan menjadi kenyataan.
      Berhenti menyiksa aku dengan smua kenangan dan rindu ini, atau mungkinkah aku yang menyiksa diriku sendiri yang tak mampu melupakanmu? Aku yang sering merindukanmu, tersiksa dengan angan sendiri mengiris hati dengan kemauan sendiri. Aku akui dengan terpaksa bahwa aku masih mencintaimu dan berharap kamu kembali, walaupun hanya untuk menenangkanku bahwa smuanya akan baik-baik saja. Seminggu bukan waktu yang cukup untuk melupakanmu :’(
Sungguh !!

Minggu, 23 Juni 2013

1 Tahun 25 Hari

Jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita ini terjadi. Aku tak ingin tahu namamu, aku tak ingin mendengar suaramu, aku tak ingin melihat wajahmu, dan aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis yang slalu meyakinkan aku untuk slalu percaya terhadap smua ucapanmu. Sungguh, aku tak ingin smua hal yang manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini, merendahkan aku.
Kamu pernah menjadi bagian dari hidup aku. 1 tahun 25 hari, setiap harinya tak ada waktu yang terlewatkan, kita lewati bersama. Setiap malam sebelum tidur, ku habiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu bahkan tak jarang ketika telpon masih tersambung aku tertidur sambil mendengar suaramu, dan tak jarang aku slalu minta untuk dinyanyikan sebelum tidur. Tawa kecilmu, kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita serta gombalanmu slalu membuatku tersenyum diam-diam.
Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, inilah proses yang sedang aku lewati. Aku mulai jatuh cinta, aku mulai mempercayai smua guyolanmu, aku mulai mempercayai kata-katamu “bg tau kok, gak mudah bikin ayang percaya, sangat-sangat gak mudah, tapi bg usahain gak bakal bikin pengalaman buruk yang baru bagi ayang, bg janji”. Kehadiranmu mulai mengobati lukaku, kebahagiaanku mulai hadir, smua begitu bahagia apalagi setelah kita anniversary yang ke-1 tahun. Tapi itu cuma bertahan sampai 25 hari selanjutnya. Ya malam itu smuanya kluar, kamu ungkapin yang smua kamu pendam selama ini. Dan sampai pada sesuatu yang tak bisa aku duga, yang tak bisa aku terima, yang tak bisa aku bayangkan, dan tak ingin aku dengar, kata-kata itu kluar dari mulut kamu “ibu bg gak setuju dengan hubungan kita, Ibu bg bilang sekarang Bidan itu gak main, yang laku sekarang itu Dokter gigi, jadi ibu pengennya bg cari pasangan seperti itu biar bisa sama-sama cari uang”. Lidahku tak bisa bergerak terasa sangat berat, dadaku terasa sesak dan air mata ini mengalir tanpa bisa aku hentikan. Kenapa baru sekarang? Kenapa kamu harus mengatakan smua ini disaat aku mulai merasa nyaman, disaat lukaku baru sembuh. Ya kamu buat luka baru, luka yang lebih sakit dari luka sebelumnya. Luka yang aku sendiri tak ingin membayangkannya. Dan benar dengan ketakutanku selama ini, kamu tidak memegang omonganmu.
Akhirnya aku sampai di tahap ini. Ditahap yang tak pernah aku bayangkan. Aku terhempas jauh sangat jauh dan jatuh terlalu dalam. Aku tidak pernah merasakan sesesak ini, sesak yang rasanya seperti aku tidak bisa untuk mengambil nafas lagi. Ini serasa mimpi, kemarin baru saja kamu bilang kalau orangtuamu menanyakan keadaanku. Tapi apa yang aku dengar dari mulutmu sebentar ini membuat aliran darahku terhenti sejenak. Aku tak percaya dengan apa yang aku dengar. Jadi selama ini yang kamu bilang itu hanya guyonan? Cuma untuk membuat aku melayang dan supaya bisa mempercayai smua rayuanmu? Ternyata smuanya kedok untuk menutupi kebusukanmu?  Ini benar-benar serasa mimpi. Bukankah hal seperti ini sudah kita bahas diawal sebelumnya? Tapi jawaban kamu slalu meyakinkan aku “gak kok, abg gak malu pacaran sama Bidan, ibu bg juga tau kok, malah ibu bg nanyain gimana kabar buk bidannya”. Dan sekarang apa? Kenapa dari awal gak jujur? Bahkan kamu mengatakan hal yang tidak seharusnya kamu katakan. Bukankah dari awal aku slalu mengingatkanmu tentang kesederhanaan? Kenapa kamu harus lakuin hal yang kamu gak mampu? Kenapa harus gengsi didepan aku? Aku terima kamu apa adanya, bukan melihat kamu jadi diri orang lain. Bahkan untuk makan dipinggir jalan pun sama kamu aku mau. Aku tidak menuntut apa pun dari kamu. Tapi kenapa kamu harus berlaku terlihat sempurna di depan aku?
Aku mencintaimu. Sungguh. Tapi kenapa masalah seperti ini bisa terjadi, disaat hubungan kita baik-baik saja. Ingin aku bertahan tapi ini tidak mungkin, ini cinta yang tidak direstui. Melupakan adalah hal tak akan pernah mudah begitu juga dengan merelakan yang pernah ada menjadi tidak ada merupakan kerumitan yang aku tidak ingin merasakannya.
Aku menulis ini ketika mataku telah lelah dan letih untuk menangis, tak kuat lagi untuk menangisi smuanya. Dan mulutku tak mampu lagi untuk berkeluh kesah. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir, dan tak kan pernah tinggal lagi dalam hidupku. Seandainya kau tahu perasaanku dan melihat smua perjuanganku, mungkin kamu akan berbalik arah, memilih aku sebagai tujuan. Tapi pada dasarnya, aku hanya seperti jam weker yang slalu membangunkanmu dipagi hari, mengingatkanmu ketika waktu makan siang datang, mengingatkanmu untuk melaksanakan kewajiban 5 waktu yang diperintahkan Tuhan, menemanimu ketika belajar, mendengarkan keluh kesahmu tentang masalah kuliahmu, mensupport ketika kamu merasa jenuh dengan smua ujian mata kuliah yang belum kamu selesaikan, tempatmu meletakkan segala kecemasan, lalu pergi ketika kamu sudah mendapatkan kebahagiaan, pergi tanpa mempedulikanku.

Sekarang, aku berjuang setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar bisa membencimu. Tapi smua usahaku sia-sia, smua kenangan indah itu slalu menari-nari dalam fikiran ku. Bisakah kau bayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya agar bisa merelakan hal yang tak harus ia relakan? Bisakah kau bayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangis agar terlihat tegar? Disini aku sendiri, berjuang melawan hati yang tak ingin terpisah !

Sabtu, 22 Juni 2013

Yudisium (ADP)

Pagi ini aku bangun lebih awal, aku lihat telpon genggam ku menunjukkan pukul 06.15 WIB. Dan hari ini Sabtu tanggal 22 juni 2013, aku teringat hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh seseorang yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupku, dan sekarang kami seperti orang asing yang saling tak mengenal. Ya hari ini dia yudisium. Congratulation sayang ! Hari ini mungkin hari yang sangat bahagia untuk dia. Hari ini dia melepas status mahasiswanya menjadi S.Ked, perjuangan yang begitu sulit yang telah dilewatinya. Akhirnya dia bisa juga menyelesaikan kuliahnya. Aku hanya bisa menarik nafas panjang, aku ikut senang tapi disisi lain aku sakit, ya beberapa hari lalu kami mendapat masalah besar. Dia mengakhiri hubungan kami bukan karna orang lain tapi orangtua sebagai pemicu. Semua terasa begitu indah sampai akhirnya omongan itu kluar dari mulut dia. Ini serasa mimpi, tidak ada pertengkaran tapi harus memaksa berakhir. Meski hati tidak ingin terpisah. Aku dan dia sekarang bukan lagi siapa-siapa. Aku coba untuk bangkit dari tempat tidur dan mencoba untuk mengawali aktivitas ku. Aku berusaha untuk tidak memikirkan hal itu lagi.
Akhirnya semua pekerjaan selesai, seperti biasa setelah mandi aku slalu duduk diatas tempat tidur sambil meraih telpon genggam ku sambil melihat inbox handphone. Tidak ada pesan baru. Aku harus membiasakan diri untuk menghadapi hal seperti ini. Tidak ada yang aku lakukan, menatap langit-langit kamar. Dan tanpa sadar kembali meneteskan air mata, aku teringat hal itu lagi. Ya kata-kata itu slalu melayang-layang difikiran aku “Ibu bg bilang, sekarang Bidan itu gak main, yang laku sekarang itu Dokter gigi, jadi ibu pengennya bg cari pasangan seperti itu biar bisa sama-sama cari uang”. Sampai sekarang di dalam fikiran aku masih ada sebuah pertanyaan, kenapa ada seorang ibu yang bisa ngomong seperti itu ke anaknya dan ngeremehin profesi padahal dia sendiri berprofesi seperti itu juga dan dia bisa ngebiayain anak dia sampai jadi seorag dokter kan karna dari hasil kerja dia sebagai bidan.
Ini benar-benar pengalaman buruk bagi aku, gak pernah terlintas sedikit pun di dalam fikiran hal seperti ini bisa aku temui. Mungkin ini salah satu perjalanan hidup yang harus aku lewati. Aku percaya Tuhan memberikan cobaan kepada seseorang karna Tuhan sayang, Tuhan ingin aku lebih bisa dewasa lagi dalam menjalani hidup dan dalam menghadapi masalah, Tuhan ingin aku menjadi lebih baik lagi.
Sulit sebenernya buat bisa nglewatinnya, semua kenangan itu slalu terlintas dalam fikiran. Semakin aku berusaha untuk menghapus semuanya, semuanya itu semakin melekat dalam fikiran. Mungkin karena kami mengakhiri ini semua dengan baik-baik, tidak ada masalah antara aku dan dia, tapi karena orangtua. Tidak ada hal yang buruk yang bisa aku fikirkan untuk melupakan dia.
Aku hapus air mata yang dari tadi tak henti mengalir, entah sudah berapa banyak dia keluar aku tidak pedulikan itu. aku raih kembali telpon genggam ku. Dan aku mulai mengetik sebuah pesan singkat
 
Me 
Yaa, stidaknya cuma itu yang bisa aku lakukan. Aku fikir dia gak akan merespon pesan singkat yang aku kirim. Dan ternyata dia balas, tpi bukan dengan nomor telpon dia, mungkin lagi kehabisan pulsa, dia kan slalu sperti itu. Seenggaknya dia ada sedikit usahalah, aku sedikit terhibur dengan itu.
You
Hanya sesaat, kembali lagi didalam fikiran lahir pertanyaan yang seharusnya itu gak ada lagi dalam fikiran aku. Lagi sama siapa ya dia? Ngajak siapa ya dia pergi yudisium? Siapa aja ya yang pergi yudisium dia? Pasti lagi senang banget dia? Lengkap gak ya kebahagiaan dia tanpa ada aku? Keingat gak ya dia sama aku? Dia mikirin perasaan aku sekarang gak ya? Pasti dia lagi senang-senang ngerayain hari dia sekarang. Dan aku disini ya seperti ini masih menangisi semuanya. Mencoba untuk tegar, tapi tetap rapuh. Dan slalu dihantui oleh kata-kata itu “Ibu bg bilang, sekarang Bidan itu gak main, yang laku sekarang itu Dokter gigi, jadi ibu pengennya bg cari pasangan seperti itu biar bisa sama-sama cari uang”. Kata-kata ini benar-benar sakit, entah aku yang bodoh karna cinta, entah rasa sayang yang tulus ini, yang mlebihi sampai sekarang aku tetap tidak bisa membenci dia meski aku tersakiti! Congratulation for your success, missing you :’( (ADP)